Ustaz Hibrida Bertopi Kupluk Rasta

525
Kalis Mardiasih. (Ilustrasi: detikcom)

KETIKA menunggu antrean kasir sebuah swalayan, televisi yang terpajang di sudut atas gerai menayangkan sebuah acara talkshow. Bintang tamu acara adalah seorang laki-laki berkacamata yang memadukan kemeja, jaket kulit, syal, celana jins, dan topi kupluk rasta. Laki-laki itu dipanggil ustaz. Sebelum berdialog dengan host, ia berdiri melakukan semacam orasi. Materinya seputar pertaubatan, yang dalam bahasa kekinian disebut hijrah. Si “ustaz” ini konon mantan anggota geng motor dan pernah masuk penjara, yang kini memimpin sebuah komunitas pemuda islami yang cukup populer.

Kuntowijoyo dalam Muslim Tanpa Masjid (2001) menjelaskan evolusi peran sosial ulama dari masa pra-industrial, semi-industrial, dan industrial. Pada masa industrial, pola komunikasi elektronik mengakibatkan sebuah pola rekrutmen yang sporadis. Jika pola kiai-santri atau guru-murid adalah pola ngenger atau nyantrik, maka hal tersebut tak berlaku untuk ustaz televisi. Ia mungkin punya banyak penggemar, tapi pola kesetiaan penggemar itu sebatas ikatan batin yang menyerupai kekaguman si penggemar kepada vokalis band atau artis film action.

Beberapa waktu kemudian, salah satu video ceramah laki-laki ini ramai diperbincangkan di jagat maya. Ia menyebut Nabi Muhammad pernah sesat sebelum mendapat wahyu, sehingga nalarnya menyimpulkan bahwa memperingati kelahiran Nabi Muhammad adalah memperingati manusia yang masih sesat. Si ustaz lalu meminta maaf; ia mengaku dalam keadaan sangat lelah karena safari ceramah sehingga berpendapat ngawur.

Si ustaz memang perlu istirahat agar tak gagal fokus, selain tentu saja perlu belajar lagi. Laku taubat tentu saja adalah hal mulia, tetapi laku ceramah tentu saja dapat membahayakan dirinya sendiri dan banyak orang jika tak berilmu mumpuni. Tapi, saya lebih tertarik untuk membahas soal penampilan yang mewakili citra diri ustaz “gaul tapi soleh” itu.

Di zaman modern ini, produksi pengetahuan agama bisa bersumber dari banyak saluran. Salah satu yang paling masif sebut saja penceramah. Sebutan penceramah agama ini mesti dibedakan dengan istilah guru, kiai, ustaz, atau ulama. Guru, kiai, ustaz, atau ulama biasanya memiliki pondok pesantren atau sekolah agama dan mengajar secara reguler. Penceramah biasa tampil di televisi dan channel Youtube. Beberapa penceramah agama memiliki kualifikasi kesarjanaan ilmu agama dan latar belakang pesantren, namun banyak pula penceramah agama yang memang tidak memiliki kualifikasi apapun dalam ilmu agama maupun percabangannya.

Penampilan memang jadi prasyarat penting tampil di layar televisi maupun layar gawai. Guru, kiai, ustaz, atau ulama biasanya tampil dengan peci, baju koko, celana kain, atau sarung. Kadang-kadang mereka juga tampil dalam jubah atau gamis dan ikatan kain sorban di kepala. Sebuah gaya yang sama sekali tak ramah visual. Ingatan yang umum itu tentu berbeda dengan penampilan si ustaz gaul yang memilih setelan kaos, jaket kulit, celana jins, dan topi kupluk rasta. Kadang-kadang ia juga membawa properti motor gede dan mengadakan sejenis konvoi bersama pengikutnya.

Sempat juga terdapat video viral seorang laki-laki bertopi dibalik ala rapper sedang menjadi imam salat. Warganet yang membagikan rata-rata bereaksi takjub, merasa bahwa penampilan “gaul” semacam itu adalah lawan dari sebuah ritual relijius. Toh, polesan semacam ini bukan kali pertama. Di lain waktu, ada ustaz yang erat dengan dandanan khas Bollywood dan senang menyanyi lagu India. Ada pula penceramah televisi yang tampil macho dengan mobil mewah, kacamata hitam, hobi olahraga golf, meskipun belakangan oknum ini ditangkap polisi karena kasus penipuan.

Saya mencoba mengajukan tesis hibriditas dalam melihat situasi ini. Hibriditas mengacu pada pertemuan dua budaya atau lebih yang kemudian melahirkan sebuah budaya baru. Ia bisa disebut dengan pencangkokan identitas, sementara Homi K Bhaba menyebutnya sebagai “ruang antara”. Pola hibriditas menghindari kategorisasi biner. Ustaz gaul, misalnya, bercita-cita mendefinisikan bentuk baru dari perilaku beragama. Laki-laki yang berpenampilan preman bukan berarti tidak bisa saleh ritual, demikian budaya baru yang ingin dikenalkan.

Sayangnya, hal paradoks terjadi ketika meskipun penampilan gaul mereka mencoba melawan penampilan ndeso atau tradisional, toh materi ceramah yang mereka sampaikan tidak sejalan dengan tampilan modern itu. Materi ceramah agama para penceramah gaul ini bersifat konservatif bahkan ultra-konservatif ketika membahas diskursus sosial seperti relasi warga dengan negara dan diskursus keperempuanan. Sesuatu yang justru tak terjadi dengan santri-santri kampung yang kini telah sangat progresif dalam wacana intelektual kampus.

Buku Kultur Hibrida: Anak Muda NU di Jalur Kultural (1999) yang dieditori Hairus Salim HS membingkai anak-anak muda NU di era peralihan Orde Baru ke Reformasi. Bisa dibilang, tokoh-tokoh yang diangkat dalam buku ini adalah para santri post-tradisionalisme yang menjadi bentuk baru persona santri modern. Post-tradisionalisme konon mengapresiasi dan mengakomodasi perjumpaan-perjumpaan dengan tradisi pemikiran di luar Islam baik liberal, radikal, sosialis-marxis, post-modernis, feminisme, gerakan multikultural, dan civil society. Meskipun, sekali lagi, para anak muda ini tidak kehilangan akar kediriannya yang paling asli dan alamiah, yakni tradisi pemikiran Islam.

Suatu malam, Mas Hairus Salim berkata kepada saya bahwa buku tersebut adalah dokumen penting untuk melihat perubahan seseorang dalam sebuah rentang zaman. Jika dilihat hari ini, setelah 20 tahun berlalu, temuan itu memang tampak jelas. Dua orang yang dibingkai dalam buku itu sebagai contoh adalah Edi AH Iyubenu dan Syafiq Alielha. Edi AH Iyubenu pada masa lalu adalah seorang santri dan juga seorang mahasiswa UIN yang telah moncer di bidang sastra, dibuktikan dengan cerpen karyanya telah nangkring di Kompas. Sedangkan, Syafiq Alielha dahulu adalah aktivis dan penggerak FORKOT yang mengkoordinasi diskusi, aksi, dan transformasi sosial pada era Soeharto.

Hari ini, Edi AH Iyubenu tidak hanya seorang sastrawan. Ia adalah pemilik penerbitan mayor, penggerak literasi sastra berbasis komunitas anak muda, dan sejumlah bisnis lain. Syafiq Alielha kini Direktur NU Online yang menggerakkan sindikasi Islam damai se-Indonesia. Dua-duanya bertransformasi, namun tak lagi sebatas ideologi, melainkan apa yang disebut Kuntowijoyo sebagai periode ilmu di era teknokrasi. Dua tokoh itu masuk dalam jaringan bisnis, pendidikan, dan media massa yang menjadi penanda zaman ini. Kiranya, bentuk baru ini tidak hanya hasil dari perjumpaan dengan produk pemikiran baru, tapi juga berbagai bentuk masyarakat, baik yang struktural maupun struktural.

Hibrida punya makna bagus jika tak berhenti pada jaket kulit dan topi kupluk rasta. Ia juga soal produk pemikiran yang menjadi dasar penggerak kiprah di masyarakat. Nilai tradisional dan nilai modern bukan sebatas tampilan dangkal guna menarik pengikut semata. Ia juga soal dasar ilmu yang kokoh untuk perkembangan Islam yang konkret dalam kehidupan sehari-hari. (*)

*Kalis Mardiasih, menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih.

  • 1
    Share

Facebook Comments