Transkrip Kata-kata Agus Sunyoto dalam Acara Bedah Buku Fatwa dan Resolusi Jihad

1496

Kenapa harus ada fatwa dan resolusi jihad? Karena Presiden Soekarno meminta fatwa kepada PB NU, “Mbah Hasyim, apa yang harus dilakukan warga Negara Indonesia kalo diserang musuh? Karena Belanda ingin kembali menguasai Indonesia”. Disitulah bung karno juga menyatakan bagaimana caranya supaya Negara Indonesia diakui oleh Negara di dunia, karena sejak diproklamasikan 17 Agustus dan Negara dibentuk 18 Agustus tidak ada satupun Negara di dunia yang mau mengakui Indonesia. Karena Negara Indonesia diberitakan adalah Negara boneka bikinan Jepang, bukan atas kehendak rakyat. Negoro sing ora dibelani rakyat.

Itulah, fatwa dan resolusi jihad kemudian dimunculkan oleh PB NU, itulah yang akhirnya ketika inggris dateng tanggal 25 Oktober tidak diperbolehkan masuk Surabaya, karena penduduk Surabaya sudah siap perang. Ternyata sore, Gubernur Jawa Timur mempersilahkan. Silahkan Inggris masuk tapi di tempat yang secukupnya saja. Ditunjukkan beberapa lokasi, kemudian masuk. Tanggal 26 Oktober ternyata tantara Inggris membangun pos-pos pertahanan Inggris. Karung-karung pasir ditumpuk kemudian dikasih senapan mesin. Bikin begitu banyak, lho ini apa maunya Inggris, padahal sudah tersebar isu Belanda mau berkuasa dengan membonceng tentara Inggris

Dengan munculnya pos-pos pertahanan tanggal 26 Oktober sore hari, pos pertahanan itu diserang massa. Penduduk Surabaya dari kampung-kampung keluar nawur pasukan Inggris. “Ayo tawur, tawuran…” dan peristiwa itu memang betul. Para pelaku mengatakan, “Itu duduk perang mas, itu tawuran”. Kenapa? “Gak ada komandannya, gak ada yang mimpin. Pokoe wong krungu jihad, jihad, Mbah Hasyim, Mbah Hasyim, jihad, sudah, keluar semua langsung tawur. Sambil teriak Allahu akbar…”

Jadi ini betul, memang bukan perang karena gak ada komandanya. Keluar dari kampung-kampung, kenapa? Karena seruan jihad itu disiarkan lewat langar-langgar, masjid, lewat spiker-spiker itu, langsung jihad, tawur, dan itu berlangsung 27 Oktober. Besoknya perang lagi, tanggal 28 Oktober yang namanya tentara kepengaruh bonek. Melu nawuri Inggris. Namanya tentara kan terlatih, langsung massa dipimpin, ayo lewat sini.

Dalam pertempuran 28 Oktober ini, 1000 lebih tentara Inggris mati dibunuh. Tapi tentara gak ngakoni, karena mereka tantara, kenapa? Indonesia merdeka, negoro belum ada yang mengakui, mosok tentara wes mateni tentara Inggris, O…, itu urusan besar nanti. Itu ikhtiyar arek Suroboyo kabeh. Ya orang-orang Surabaya aja. Itu yang diteriakkan selalu “Arek-arek Suroboyo” karena apa? Tentara gak mau ikut campur disitu.

Negoro durung ono sing ngakui, wes mateni tentara Inggris. Sampek tanggal 29 Oktober pertempuran itu masih terjadi. Disitulah pihak Inggris mendatangkan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta, datang, didamaikan, tanggal 30 Oktober ditanda tangani kesepakatan damai, tidak tembak-menembak. Itu kan Gubernur Jawa Timur, pimpinan Jawa Timur, wong sing tawuran rakyat, gak ada hubunganya rakyat dengan Gubernur. Gubernure wes tanda tangan, massa kampung gak mau. Itulah tanggal 30 Oktober Brigadir Jendral Mallaby digranat arek Suroboyo, (blengngngng.. mati wes-red).

Inggris ngamuk betul, “maksude opo wong-wong iki? Perang sudah selesai, pasukan Inggris diserang, Jendrale dipateni”. Panglima tertinggi Jenderal lnggris Phillip Christison marah. Kemudian ngancam “Kalau sampai tanggal 9 November jam 6 sore pembunuhnya Mallaby tidak diserahkan, dan tanggal itu orang-orang Surabaya yang masih memegang bedil, meriam dan seterusnya tidak menyerahkan senjata-nya kepada tentara Inggris, tanggal 10 November jam 6 pagi Surabaya akan dibombardir. Darat, laut, udara. Datanglah tujuh kapal perang, langsung di pelabuhan Tanjung Perak itu, meriamnya sudah diarahkan ke Surabaya. Dan kemudian meriam Howidser diturunkan dari kapal. Ini khusus untuk menghancurkan bangunan dan kemudian satu squadron pesawat tempur dan pesawat pengebom. Memang mau dihabisi Surabaya itu. Karen mereka marah.

Di situlah tanggal 9 November jam setengah empat sore setelah Mbah Hasyim pulang dari konferensi Masyumi di Jogjakarta, (beliau Ketua Masyumi waktu itu-red), beliau pulang ke Surabaya mendengar ancaman itu dan menyaksikan sendiri bagaimana blokade mau menghancurkan Surabaya, langsung beliau menjawab, fatwa. “Fardhu ain bagi semua umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilometer dari kota Surabaya untuk membela kota Surabaya”. Ya, 94 kilo itu jarak dibolehkannya solat qosor. Wilayah Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Jombang itu kan gak sampe 90 kilometer, dateng semua. Kediri juga datang, kita catat semua. Bahkan dari Lirboyo ini dalam catatan, dipimpin Kiai Mahrus. Jadi seruan itu langsung disambut luar biasa. Bahkan Cirebon yang lebih dari 500 kilometer datang ke Suroboyo.

Kemudian Kiai Agus Sunyoto mengisahkan hiruk pikuk pertempuran. Mulai dari jumlah pasukan, jenis senjata, siapa saja yang ikut perang, termasuk anak-anak kecil, bahkan orang-orang dari lintas Agama juga ikut perang. Orang Kong Hucu, Kristen, Budha semua ikut jihad. Selain menewaskan Jendral Mallaby, pertempuran di Surabaya juga menewaskan seorang Brigadir Jendral yang bernama Brigjend Lodder Symmond. Jadi peristiwa pertempuran Surabaya itu menewaskan dua orang Jendral Inggris. (diramu dari Facebook, di selaraskan oleh Ahmad Fairozi)

Facebook Comments