Transkrip Kata-kata Agus Sunyoto dalam Acara Bedah Buku Fatwa dan Resolusi Jihad

1496

***

Disitu kita dapat, ketika Indonesia pertama kali merdeka tidak punya tentara, tidak ada tentara. Baru dua bulan kemudian diadakan tentara. Agustus, September, Oktober. 5 Oktober dibentuk tentara keamanan rakyat (TKR). Ini dokumen Negara, silakan dibaca di sekretariat Negara, di arsip nasional ini semua ada. Nah, dengan dibentuknya ini Negara Indonesia sudah punya tentara. Tanggal 10 Oktober diumumkanlah jumlah tentara keamanan rakyat di jawa saja. Belum Sumatra dll. Itu ternyata TKR di jawa jumlahnya 10 divisi. 1 divisi isinya 10.000 prajurit. Terdiri dari 3 resimen, terdiri dari 15 batalyon. Jadi 10 divisi artinya TKR jumlahnya 100.000 pasukan. Itu TKR pertama yang nanti menjadi TNI.

Dari pernyataan data TKR yang dikeluarkan pemerintah tanggal 10 Oktober 1945 kita tahu, bahwa komandan divisi pertama TKR itu adalah Kolonel KH. Sam’un. Kiai, pengasuh pesantren di Banten. Komandan divisi ketiga adalah kolonel KH. Arwiji Kartawinata. Ini di Tasikmalaya. Pangkatnya kolonel. Kiai haji, sampai tingkat resimen sama, resimen 17 dipimpin letnan kolonel KH. Iskandar Idris. Resimen 8 dipimpin letnan kolonel KH. Yunus Anis. Sampek komandan batalyon. Komandan batalyon TKR Malang dipimpin mayor KH. Iskandar Sulaiman. Siapa kiai Iskandar Sulaiman ini? Beliau saat itu jabatannya Rois Syuriyah (PC NU-red) Kabupaten Malang.

Poro kiai, ini dokumen Negara, saya gak ngarang. Silakan dibaca di Arsip Nasional kemudian di Sekretariat Negara masih tersimpan. Di pusat sejarah TNI ada semua, bahkan untuk selanjutnya kita lihat komandan divisi pertama TKR kolonel KH. Sam’un beliau ternyata pensiun Brigadir Jendral. Jadi banyak kiai-kiai yang pensiun Brigadir Jendral. Ini sejarah yang selama ini ditutup, termasuk KH. Hasyim Asy’ari dalam pemerintahan Presiden Soekarno, beliau sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Tapi silakan dibaca itu buku-buku sejarah anak-anak SD, SMP, SMA, ada gak? KH Hasyim Asy’ari masuk di buku pelajaran itu? Gak ada. Seolah-olah gak pernah ada jasanya dan bukan Pahlawan Nasional. jadi memang yang dari pesantren itu disingkirkan betul dari Negara ini.

Nah, dari situ kita bisa tahu kenapa TKR waktu itu banyak dipimpin poro kiai, karena hanya poro kiai dari pesantren dengan santri-santri yang menjadi tentara itu adalah golongan dari elemen bangsa ini yang mau berjuang sebagai militer tanpa bayaran. Tentara saat itu gak dibayar. Dibayar dari mana? Baru merdeka, duit aja ga punya. Jadi, tentara itu baru menerima bayaran tahun 1950. Selama 1945 sampai perjuangan 1950 itu gak ada bayaran. Dan yang mau melakukan itu hanya poro kiai, dengan tantara-tentara Hizbulloh, lascar-laskar itu gak ada bayaran. Sampai sekarang, NU itu punya tentara swasta namanya Banser, yo gak dibayar. (hahaha… riuh hadirin tertawa-red). Itu fakta. Jadi nanti kita akan tahu bagaimana sampek terjadinya pertempuran 10 November.

10 November ini satu peristiwa paling aneh dalam sejarah. Kenapa? Pertempuran besar yang terjadi setelah perang selesai. Jadi perang dunia itu selesai 15 Agustus. Ketika Jepang menyerah itu perang dunia kedua dinyatakan selesai. Tidak ada lagi perang.

Pasukan Inggris ditugasi ngangkuti interniran dan tawanan Jepang. Tawanan militer yang diangkuti, tugas utamanya itu. Jangan sampek tawanan-tawanan ini menghadapi amuk massa, Diserang massa dipateni kabeh, wah iki bahaya, jadi harus diangkuti.

Bagaimana bisa terjadi perang besar 10 November, wong sudah gak ada perang. Nah, ternyata sebelum pertempuran 10 November ada perang 4 hari di Surabaya. Tanggal 26, 27, 28, 29 Oktober 1945. Bagaimana bisa terjadi perang 4 hari di Surabaya? Karena sebelum tanggal 26, tanggal 22 Oktober ada fatwa dan resolusi jihad dari PB NU, itu yang menyebabkan Surabaya bergolak. Jadi tentara Inggris sendiri aslinya tidak pernah berfikir akan perang, akan bertempur dengan penduduk Surabaya, gak pernah mikir mereka, perang selesai kok. Tapi karena masarakat Surabaya terpengaruh fatwa dan resolusi jihad, siap nyerang Inggris, yang waktu itu mendarat di Surabaya. Ini sejarah yang selama ini ditutupi.

Justru karena dengan sejarah yang ditutupi, tidak mengakui fatwa dan resolusi jihad dan tidak mengakui ada perang 4 hari di Surabaya, orang yang membaca sekilas peristiwa 10 November akan menganggap tentara Inggris gak waras.

Lapo ngebomi kota Surabaya tanpa sebab, untuk apa? Tapi kalo melihat rangkaian ini, baru masuk akal. ya marah mereka karena Jendralnya terbunuh, pasukanya dibunuh bonek-bonek Suroboyo, (hahahaha audiens ngakak-red).

Facebook Comments