Transkrip Kata-kata Agus Sunyoto dalam Acara Bedah Buku Fatwa dan Resolusi Jihad

1496

Itu sebabnya, kalangan atas ini merekayasa sejarah. Bagaimana kalangan bawah ini tidak memiliki peran apapun di Negara ini. Sekalipun faktanya tidak seperti itu. Mereka memanipulasi sejarah, memutar balik sejarah. Dimana data ini ada di negeri Inggris, Belanda, dst. Dengan keyakinan, tidak mungkin orang pesantren mampu menembus ke dokumen ini, di negeri Belanda, Inggris, Perancis atau dimana pun. Itulah mereka memutar balik fakta seperti itu.

Nah, inilah yang kemudian kita bikin tulisan ini. Awalnya tahun 1990, waktu itu peringatan 45 tahun pertempuran 10 November tahun 1990. dan kita tahu dalam peringatan itu yang jadi pahlawan besar dalam pertempuran 10 November adalah golongan atas ini. Orang terpelajar yang berpendidikan tinggi. Nama-nama mereka muncul. Saat itu tersebar di televisi, koran, dan majalah memuat itu.

Nyai Sholihah, ibunya Gus Dur, waktu itu memanggil Gus Dur. Beliau bertanya β€œitu ceritone 10 November yang berjasa itu harusnya kiai Hasyim Asy’ari dan poro kiai. Kok bisa yang jadi pahlawan itu wong-wong sosialis?. Dari situlah Gus Dur diminta untuk klarifikasi. Lalu Gus Dur klarifikasi, menemui tokoh-tokoh tua, senior dikalangan kelompok sosialis, mengenai hari pahlawan 10 November. Ternyata jawabanya sederhana, sambil ketawa-ketawa mereka menjawab, yang namanya sejarah dari dulu kan selalu berulang Gus, bahwa sejarah sudah mencatat, β€œOrang bodoh itu makanannya orang pintar. Yang berjasa orang bodo, yang jadi pahlawan wong pinter,” itu biasa.

Wah itu Gus Dur marah betul dibegitukan. Berarti mereka sampai tahun 1990 masih nganggap NU bodoh. Itulah, tahun 1991 Gus Dur melakukan kaderisasi besar-besaran anak muda NU. Anak-anak dilatih untuk mengenal analisis sosial (ansos) pertama kali. Teori-teori sosial diajarkan sama Gus Dur ke anak-anak, filsafat, sejarah, apapun. Geopolitik, geostrategi, diajari anak-anak supaya tidak lagi dianggap bodoh, dan kemudian berkembang. Saya termasuk yang ikut pertama kali kaderisasi itu, karena itu agak faham.

Itulah, seluruh penulis sejarah Indonesia menyatakan fatwa dan resolusi jihad tidak ada. Tapi ternyata saya menemukan tulisannya seorang sarjana, sejarawan Amerika Benedict Anderson. Dalam tulisanya tentang penjajahan jepang di Indonesia 1942 sampai 1945 di Indonesia.

Beliau menyatakan, tanggal 22 Oktober pernah ada resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) di Surabaya. Bagaimana Benedict Anderson ini menyatakan bahwa tanggal 22 Oktober 1945 itu ada resolusi jihad? Ternyata beliau memiliki sumber dasar. Karena apa? Setelah resolusi jihad dikumandangkan tanggal 22 Oktober, tanggal 25 Oktober kantor berita Antara yaitu kantor berita nasional memuat secara lengkap resolusi jihad, Kantor berita Negara itu. Tanggal 27 Oktober Koran Kedaulatan Rakyat juga memuat secara lengkap resolusi jihad. Ada lagi, Koran Suara Masyarakat di Jakarta, juga memuat resolusi jihad.

Artinya, peristiwa ini ada sekalipun wong Indonesia tidak mau menulis bahwa itu ada. Karena menganggap NU yang mengeluarkan ini golongan lapisan bawah. Dimanipulasi.

Disitulah kita temukan, kita patahkan pandangan orang yang mengatakan NU satu-satunya elemen bangsa Indonesia yang tidak memiliki peran apapun dalam bina Negara Republik Indonesia. Di situ kita buka, kita bongkar dokumen-dokumen lama yang sebagian besar berbahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Perancis dan sebagainya, termasuk bahasa Jepang.

Facebook Comments