Transkrip Kata-kata Agus Sunyoto dalam Acara Bedah Buku Fatwa dan Resolusi Jihad

1469
Transkrip Kata-kata Agus Sunyoto dalam Acara Bedah Buku Fatwa dan Resolusi Jihad
Ilustrasi TKR. (Istimewa)

Rumah Baca Orid
Buku ini sudah diakui oleh museum kebangkitan Nasional, sudah diakui oleh Kementerian Pertahanan dan Kementerian Kebudayaan. Rencananya, Kementerian Pertahanan akan membedah buku ini di 20 kota besar di Indonesia. Launching pertama akan dilaksanakan di Museum Kebangkitan Nasional tanggal 10 November 2017. Pondok Pesantren Lirboyo Kediri mendapat kehormatan untuk ditempati acara bedah buku ini yang dilaksanakan pada Jum’at  3 November 2017.

Setelah bermuqadimah, menyampaikan salam hormat kepada para masyayikh lirboyo, Kiai Agus Sunyoto menyampaikan:

Kita bahas tentang fatwa dan resolusi jihad. Ini buku pertama yang membahas fatwa dan resolusi jihad. Kenapa begitu? Karena semua pelaku sejarah pertempuran 10 November, tidak ada yang mau mengakui fatwa dan resolusi jihad itu pernah ada.

Tulisanya Prof. Ruslan Abdul Gani, yang ikut terlibat gak ada menyebutkan ini pernah ada. Bung Tomo yang pidato teriak-teriak, dalam bukunya gak pernah menyebutkan bahwa fatwa dan resolusi jihad pernah ada. Laporan tulisan Mayor Jendral Sungkono juga gak menyebut pernah ada fatwa dan resolusi jihad.

Jadi semua buku yang bercerita tentang pristiwa bersejarah hari pahlawan tidak menyinggung pernah ada fatwa dan resolusi jihad NU. Karena itu banyak orang menganggap fatwa dan resolusi jihad itu hanya dongeng dan ceritanya orang NU saja.

Sampai tahun 2014 kemarin, di perguruan tinggi negeri besar di Jakarta, diadakan seminar nasional tentang perjuangan menegakkan Negara Republik Indonesia. Para doktor, profesor dan ahli sejarah yang ada di situ sepakat mengatakan “Diantara elemen bangsa Indonesia, yang tidak memiliki peran dan andil dalam usaha kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia itu hanya golongan pesantren, khususnya NU,” kesimpulanya begitu.

Bahkan, dengan sinis salah seorang menyatakan “Organisasi PKI itu saja pernah berjasa. Karena pernah melakukan pemberontakan tahun 1926 melawan belanda. NU tidak pernah,” Ini faktanya. Dari banyak aspek, sejarahnya tokoh-tokoh ulama dari pesantren dihilangkan. Data-data tentang itu ditutupi semua, supaya tidak ada yang tahu bahwa pesantren pernah berjasa.

Itulah yang kemudian membikin saya menyusun ini. Bulan November 2015 mulai saya susun, saya kumpulkan data. Waktu saya jadi wartawan Jawa Pos tahun 1985 itu dapat tugas macam-macam, mewawancarai tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa 10 November, dalam peristiwa pemberontakan di Madiun. Dari situ saya mendapat informasi bahwa fatwa jihad memang ada, tapi tidak perlu diakui. Ya ada usaha seperti itu, menutupi sejarah Indonesia yang sebenarnya.

Kenapa ini terjadi? Karena orang-orang sekolah didikan Belanda itu yang menjadi penguasa Negara Republik Indonesia sejak dibentuk tahun 1945. Itu yang ngisi itu semua mayoritas orang-orang didikan sekolah Belanda dan mereka yang menyusun sejarah. Mereka yang menyusun tata aturan bagi masyarakat Indonesia.

Jadi, kelompok sarjana-sarjana ini, didikan Belanda ini, menggambarkan bangsa Indonesia setelah merdeka terdiri dari 3 lapisan golongan. Golongan atas, golongan menengah dan golongan bawah.

Ini pertama kali saya dengar dari ceritanya Gus Dur langsung tahun 1991. Kemudian cerita ini saya konfirmasikan dengan teman-teman di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ternyata benar. Pandangan mereka seperti itu, saya konfirmasikan dengan tokoh-tokoh senior, iya (sama-red).

Jadi pandangan mereka (orang-orang sekolah didikan Belanda-red) di Indonesia ada tiga lapisan golongan yang terdiri dari atas, tengah, dan bawah. Lapisan atas, yakni kalangan elit, politik yang tinggi adalah golongan orang-orang cerdas, orang-orang pintar yang punya latar belakang pendidikan tinggi. Yang mereka maksud latar belakang pendidikan itu adalah sekolah. Jadi wong pinter sing sekolah tinggi ini menduduki lapisan atas. Elit politik, elit ekonomi, yang nguasai Negara harus wong pintar-pintar ini.

Setelah itu golongan menengah. Yang disebut golongan menengah itu adalah golongan orang biasa, tidak pinter, tidak cerdas, juga tidak bodoh, tapi berpendidikan. Ini golongan menengah.

Setelah itu golongan bawah. Yaitu golongan masarakat bodoh. Yang tidak berpendidikan, gak sekolah, itu seluruh Indonesia, menurut pandangan orang-orang sekolah didikan Belanda. (gambaran ada 3 golongan ini berlaku di seluruh Indonesia-red).

Menurut pandangan orang-orang didikan sekolah belanda, tiga lapisan ini dibagi dua. Artinya ada 6 kelompok di situ. Yang atas, orang cerdas yang berpendidikan tinggi. Kalau agamanya kuat pasti Masyumi. Kalau agamanya lemah, itu PSI, orang sosialis.

Kalangan menengah, itu orang biasa tapi punya latar belakang pendidikan. Dibagi dua, Yang agamanya kuat pasti Muhammadiyah. Yang lemah PNI (sekarang menjadi PDI-P-red).

Setelah itu lapisan paling bawah. Orang-orang bodoh yang tidak berpendidikan. Nek agomone kuat, NU. Nek agomone lemah, PKI. (ger, terdengan riuh tawa audien di gedung LBM Pondok Pesantren Lirboyo menggema-red).

Facebook Comments