Tiga Orang Berpuasa

149
Ramli Lahaping

KASIM merasa beruntung tinggal di kos-kosan yang sama dengan Pardi dan Suman. Ia jadi lebih perhatian pada persoalan agama karena kehadiran kedua pengurus organisasi keagamaan di kampus tersebut. Ia jadi makin giat mewujudkan keimanannya di dalam tindakan yang nyata.

Akhirnya, Kasim menjadi pribadi yang taat pada tuntunan agama. Ia yang dahulu melaksanakan perintah agama sekadar untuk menggugurkan kewajiban, kini mulai membiasakan diri untuk menunaikan amalan-amalan sunah, termasuk puasa pada hari Senin dan Kamis.

Keputusan Kasim untuk melaksanakan puasa sunah, bermula sejak lima minggu yang lalu, setelah ia berbincang dengan Pardi dan Suman di balai-balai depan kos-kosan mereka. Saat itu, ia mengutarakan kekalutan hatinya di tengah beragam masalah, terutama persoalan biaya kuliah atas keadaan orang tuanya yang miskin, hingga ia pun mendapatkan saran dari kedua seniornya di kampus tersebut:

“Cobalah untuk puasa sunah. Aku yakin, kau akan tenang dalam menghadapi masalahmu,” saran Pardi yang bertubuh tambun.

Kasim hanya mengangguk lesu.

“Iya. Dengan puasa sunah, aku yakin, kau akan menemukan jalan keluar untuk segala urusan dunia yang engkau khawatirkan,” timpal Suman yang doyan bermain gim.

“Apa itu manjur, Kak?” tanya Kasim atas keraguannya.

Suman tersenyum. “Aku sendiri sudah membuktikannnya.”

Pardi lantas menepuk-nepuk pundak Kasim. “Persoalan di dunia ini, terlalu besar untuk kita manusia yang kecil dan tak punya daya apa-apa. Makanya, kalau kita berserah kepada Tuhan dalam menghadapi persoalan dunia, maka semua akan terasa mudah,” nasihatnya. “Yakinlah, kalau kau mencari akhirat, maka kau akan mendapatkan kemenangan di dunia. Tetapi kalau kau mencari dunia, maka kau belum tentu mendapatkan kemenangan di akhirat.”

Kasim pun mengangguk-angguk dan tersenyum.

Akhirnya, setelah percakapan itu, Kasim mulai belajar untuk berpuasa sunah. Waktu demi waktu, ia terus melatih diri untuk melaksanakannya secara sungguh-sungguh. Dengan rutinitas tersebut, ia pun merasakan ketenangan.

Seiring itu, persolan-persoalan yang dahulu ia cemaskan, berhasil pula menemukan jalan keluar. Semisal permasalahan biaya kuliah yang begitu ia pusingkan, akhirnya teratasi setelah ia mendapatkan beasiswa.

Tak pelak, atas kenyataan itu, ia merasa telah membuktikan bahwa puasa memang dapat menjadi solusi untuk beragam persoalan. Ia pun jadi makin bersemangat untuk melaksanakan amalan tersebut. Ia bahkan sudah tampak seantusias Pardi dan Suman.

Perkara puasa sunah, akhirnya membuat hubungan Kasim dan kedua seniornya itu makin erat. Mereka bertiga terus saling menyemangati dalam menunaikan puasa sunah dengan sebaik-baiknya. Mereka bahkan senantiasa sahur dan buka puasa secara bersama-sama.

Hingga akhirnya, pada hari Kamis, ketika hari di ujung sore, mereka pun kembali berbincang-bincang di atas balai-balai halaman kos-kosan mereka, sembari menunggu waktu berbuka.

“Kini, aku benar-benar telah merasakan manfaat berpuasa sunah seperti yang Kakak nasihatkan dahulu. Aku merasa makin tenang dalam menghadapi segala persoalan, dan aku senantiasa mendapatkan jalan keluar untuk setiap masalahku,” aku Kasim kemudian. “Aku merasa berutang budi kepada Kakak yang telah mengajariku perihal puasa sunah.”

Pardi pun tersenyum senang menyaksikan keinsafan Kasim. “Aku merasa bersyukur bahwa kau telah menyadari dan merasakan manfaat dari berpuasa sunah secara langsung.” Ia lantas menepuk-nepuk punggung Kasim. “Yakinlah selalu bahwa menunaikan tuntunan agama, pasti akan mendatangkan manfaat untuk diri kita sendiri. Sering kali, kita hanya tidak menyadarinya.”

“Ya, itu benar,” timpal Suman. “Dahulu, aku sama sekali tak tahu dan tak bisa mengerti manfaat puasa sunah untuk diriku sendiri. Tetapi aku mencoba saja untuk melaksanakannya, hingga aku mendapatkan manfaatnya.”

Kasim sontak mengangguk-angguk sepaham.

“Ya. Pada akhirnya, kita pun akan menyaksikan manfaatnya secara langsung,” tanggap Pardi, lantas mengusap-usap perut buncitnya. “Kalian sendiri pasti bisa melihat bahwa setelah aku melaksanakan puasa sunah selama berbulan-bulan, berat badanku makin turun.“ Ia kemudian tertawa pendek. “Kupikir, kalau aku terus melaksanakan puasa sunah, aku akan mendapatkan berat badan yang ideal.”

Sontak, Kasim merasa aneh atas alasan dan motivasi Pardi dalam berpuasa sunah.

“Ya, kau benar,” timpal Suman. “Karena puasa sunah jugalah, aku bisa menghemat dan menabung sebagian uang konsumsi kiriman orang tuaku. Dan tanpa kuduga, setelah berbulan-bulan melaksanakan puasa sunah, aku pun berhasil mengumpulkan tabungan yang banyak,” terangnya, lantas menunjukkan ponsel pintarnya yang baru. “Lihatlah, HP ini aku beli dengan uang tabungan hasil penghematanku. Dengan ini, aku pun bisa memainkan gim dengan lebih asyik.”

Seketika pula, Kasim merasa makin aneh atas alasan dan motivasi Suman dalam berpuasa sunah.

Tiba-tiba, azan dari masjid berkumandang.

Akhirnya, mereka bertiga berbuka puasa dengan hidangan air putih dan kue-kue yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Mereka tampak sama-sama senang telah berhasil menunaikan puasa sunah untuk kesekian kalinya.

Tetapi diam-diam, di tengah aktivitas berbuka, Kasim akhirnya mempertanyakan sendiri niatnya dalam melaksanakan puasa sunah. (*)

*Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Instagram (@ramlilahaping).

Facebook Comments