Sumpah Pemuda dan “Indonesia Raya”

171
Ilustrasi lagu Indonesia Raya. (Ist)

SEMBILAN puluh satu tahun yang lalu, W.R. Soepratman merasa tertantang kala melihat sebuah sayembara di Majalah Timboel yaitu sayembara penciptaan lagu kebangsaan untuk Indonesia. Kelak lagu kebangsaan yang terpilih akan dimainkan di Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928, sebuah kongres kepemudaan yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).

Kongres Pemuda bukanlah hal yang baru bagi W.R. Soepratman. Dia pernah berpartisipasi di Kongres Pemuda I pada 30 April – 2 Mei 1926 sebagai jurnalis Sin Po yang meliput kongres tersebut. Di Kongres Pemuda II, W.R. Soepratman ingin berpartisipasi bukan hanya sebagai jurnalis seperti di Kongres Pemuda I, namun ingin memberikan imaji kebangsaan kepada pemuda-pemuda yang berkumpul lewat gesekan biolanya. W.R. Soepratman kemudian merangkai nada-nada, menyusun notasi yang kelak menjadi sebuah lagu berjudul Indonesia Raya.

Ketua Kongres Pemuda II Soegondo Djojopoespito pun kesengsem dengan karya mantan personel band jazz Black and White itu. Karyanya layak dan dianggap memenuhi sebuah lagu kebangsaan yang diidam-idamkan para pemuda. Ia kemudian memilih Indonesia Raya untuk dimainkan di Kongres Pemuda II. Soegondo lalu meminta W.R. Soepratman untuk memainkan Indonesia Raya di depan para pemuda yang tengah berkongres.

Polisi Hindia Belanda sebenarnya sudah tahu bahwa ada indikasi Indonesia Raya akan diputar di Kongres Pemuda II. Mengutip dari buku karya John Ingleson, Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927-1934, Polisi Hindia Belanda sempat mencegah Indonesia Raya dimainkan, namun usaha tersebut gagal dan Indonesia Raya tetap berkumandang.

Berkumandang

Hari terakhir konges, 28 Oktober 1928, Indonesia Raya berkumandang untuk pertama kalinya di seantero Gedung Indonesische Clubgebouw, tempat perhelatan Kongres Pemuda II. Menurut penuturan Surjadi, saksi sejarah sekaligus rekan W.R. Soepratman saat dimainkannya Indonesia Raya di Kongres Pemuda II lewat artikel di Kompas, 29 Oktober 1973, W.R. Soepratman mengajak empat rekannya, Surjadi, Mukali, Tursono, dan Ventje van Hok untuk tampil bersamanya memainkan lagu Indonesia Raya.

Masing-masing personel memainkan alat musik violin, gitar, banjo, dan flute untuk mengiringi lagu. Bulu kuduk para pemuda berdiri ketika Indonesia Raya dialunkan. Tak hanya itu, imaji para pemuda tentang lahirnya negara bernama Indonesia mulai terlukiskan. Dimainkannya Indonesia Raya seakan mendampingi peristiwa penting lain di Kongres Pemuda II yaitu disepakatinya Sumpah Pemuda oleh para pemuda di hari itu juga, 28 Oktober 1928.

Dimainkannya Indonesia Raya menimbulkan kesan yang mendalam terhadap para pemuda yang hadir di Kongres Pemuda II. Abu Hanifah, yang saat Kongres Pemuda II berumur 22 tahun, menuliskan kesannya terhadap lagu Indonesia Raya pada Kongres Pemuda II dalam memoarnya berjudul Tales of a Revolution (1972). Ia memandang Indonesia Raya merupakan simbol yang mampu membangkitkan imaji tentang terwujudnya impian kaum pemuda mengenai bangsa Indonesia yang merdeka. Indonesia Raya menjadi andil yang sangat penting dalam memelihara semangat para pemuda, terutama tatkala kenyataan situasi politik kolonial yang mengancam sehingga berdampak pada timbulnya rasa putus asa dan hilangnya semangat kepada para pemuda.

Indonesia Raya seakan selaras dengan Sumpah Pemuda yang diikrarkan para pemuda kala itu. Awal lirik Indonesia Raya sudah menggambarkan isi Sumpah Pemuda, yaitu menjadikan Indonesia sebagai Tanah Air dan sebuah bangsa. Indonesia Raya juga menggunakan bahasa Indonesia yang selaras dengan isi ketiga Sumpah Pemuda. Tak hanya itu, lewat Indonesia Raya di stanza kedua dan ketiga terdapat deskripsi bahwa Indonesia merupakan negara yang subur.

Lalu, terdapat doa sekaligus pujian untuk bangsa, rakyat, pulau, dan laut Indonesia. Terakhir, yang terpenting dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya terdapat suatu harapan agar rakyat Indonesia bersatu dan merdeka, serta menjadi negara yang maju.

Penyemangat

Pasca dimainkan di Kongres Pemuda II, Indonesia Raya sempat tidak dipercaya akan populer berdasarkan pandangan Bupati Batavia saat itu, Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat melalui laporan Bupati Batavia kepada Residen Batavia pada 7 Maret 1929. Bupati Batavia berpendapat, Lagu Indonesia Raya tidak akan pernah mengesan di kalangan intelektual. Oleh karena itu saya ragu jika lagu tersebut akan menjadi populer.”

Namun kenyataannya, Indonesia Raya populer dan dikenal publik sebagai lagu kebangsaan. Penyebaran Indonesia Raya dilakukan dari mulut ke mulut dan melalui media massa. Salah satunya adalah partitur dan lirik lagu Indonesia Raya yang ditampilkan Majalah Sin Po No. 238 tahun 1928. Judul lagu tersebut hanya tertulis “Indonesia“, kemungkinan agar tidak terlalu frontal bila ditulis dalam judul asli “Indonesia Raja“. Kemudian, Majalah Sin Po pada edisi No. 396, 11 November 1930, memperkenalkan kepada publik sosok pencipta lagu Indonesia Raya beserta foto dengan wajah W.R. Supratman.

Selain itu, Indonesia Raya dipakai sebagai suplemen penyemangat para tokoh pergerakan yang bergerak di jalur non-kooperatif terhadap Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Pada 1929, Indonesia Raya dipakai sebagai salah satu instrumen program mobilisasi massa yang bermakna lambang identitas, manifestasi solidaritas kelompok, dan pererat perjuangan. Lalu, pada 31 Desember 1931, Indonesia Raya berkumandang dalam penyambutan Soekarno di Stasiun Surabaya saat menghadiri Kongres Pemufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Meski pada 1930 Indonesia Raya dilarang oleh Pemerintah Kolonial Belanda karena dianggap subversif dan mengganggu ketenangan dan ketertiban (rust en orde), lagu itu tetap populer di mata rakyat Indonesia dan tokoh pergerakan. Populernya lagu Indonesia Raya bisa dilihat dari banyaknya acara yang diinisiasi oleh tokoh pergerakan yang menyertakan lagu itu sebagai bagian dari rangkaian acara. Indonesia Raya dimainkan pada perayaan Hari Ulang Tahun Indonesische Studieclub pada 12-13 Juli 1930 dan acara pendirian organisasi Indonesia Muda pada 31 Desember 1931.

Bahkan, Kongres Rakyat Indonesia pada pertengahan Desember 1939 yang diadakan oleh Gabungan Politik Indonesia (GAPI) menetapkan Indonesia Raya sebagai lagu nasional. Pada akhirnya, Indonesia Raya benar-benar menjadi lagu nasional untuk seluruh rakyat Indonesia setelah kemerdekaan diraih hingga kini.

Itulah sekelumit kisah lagu kebangsaan yang akrab di telinga dan hati kita. Indonesia Raya bukan sekadar lagu, namun merupakan kumpulan ide, imaji, doa, dan harapan terhadap sebuah negeri yang saat itu berada dalam cengkeraman kolonisasi. Indonesia Raya juga bukan hanya sebagai pelengkap dalam rangkaian acara, namun sebagai instrumen pengingat setiap insan akan perjalanan negeri ini, dulu, hari ini, dan esok hari. (*)

*Bima Widiatiaga, Pamong Budaya Ahli Pertama di Museum DPR RI.


Sumber: detik.com

Facebook Comments