Serba-Serbi Nostalgia Masa Kini

172
Gayuh Ilham Widadi. (dokpri)

SEBUAH penelitian pada tahun 2017 menemukan fakta dimana nostalgia merupakan sekian dari 27 jenis emosi utama dalam diri manusia. Dalam penelitian tersebut pula, perilaku bernostalgia masuk ke dalam emosi unik. Kebiasaan seperti itu diakui mampu mempengaruhi kinerja otak dalam konteks positif.

Kata Nostalgia diambil dari kosakata bahasa Yunani, (Nostos) yang memiliki arti kepulangan, dan melihat kembali masa lalu. Nostalgia pada konteksnya berkisah mengenai kondisi dimana cerita masa dulu yang pernah dialami. Merasakan berbagai kenangan hidup, mengingat indahnya menyusuri hari sewaktu belum memikirkan berbagai beban hidup adalah tujuan nostalgia itu berada.

Tembang kenangan lantunan penyanyi minang Vanny Vabiola berjudul ‘Ada Rindu Untukmu’ tepat menggambarkan setiap helai kenangan adalah sesuatu berharga bagi si empunya dalam mengarungi liku perjalanan hidup dari hari ke hari.

Jenis nostalgia juga beragam jenisnya. Dari nostalgia semasa kecil, kebersamaan dengan sanak keluarga, sampai dengan urusan percintaan patut dimasukkan sebagai kategori penting mengenang kisah-kasih dalam mengarungi bahtera kehidupan. Pada Zaman serba wah seperti saat ini, nostalgia kian mudah dilakukan oleh siapapun.

Mengenang masa lalu bukan perilaku sia-sia. Ada beberapa manfaat yang harus kita ketahui terutama dampak bagi kesehatan mental. Nostalgia mampu memberikan manfaat dari sisi kesehatan maupun emosional seseorang. Nostalgia acapkali mampu mengurangi beban pikiran berupa stres. Selain itu, juga mampu menghadirkan mood yang bisa menimbulkan semangat sehingga bisa memberikan efek mensyukuri berbagai hal dalam kehidupan.

Rasa Nostalgia Masa Kini

Nostalgia juga tidak serta merta menyajikan ingatan masa lalu, tapi sekaligus menghadirkan emosi perasaan dalam diri. Perasaan tersebut akan kita temui ketika berusaha mengingat momen indah dalam hidup yang teramat mengasyikkan. Tentunya kita selalu ingin mengulang masa dimana saat itu terjadi. Pada kondisi itu, emosi yang tercipta dalam diri akan berangsur timbul.

Dari rasa kebahagiaan pernah melalui pengalaman sebegitu asyiknya, sampai dengan emosi sedih saat kita sadar dan mengetahui bahwa momen indah tersebut kini sudah menjadi masa lalu yang sangat dirindukan.

Dengan seringnya mengingat berbagai macam kenangan masa lalu, kita pasti menemukan kejadian, pengalaman yang memiliki makna. Hal demikian menimbulkan rangsangan ataupun membangkitkan fungsi memori otak seperti senang dan sedih yang terhubung langsung sebagai implikasi dari aktifnya sistem neuron ketika otak seseorang mengulas ingatan yang berdampak pada meningkatnya emosi.

Contoh lain yang tak kalah menguras emosi adalah ketika kita mengingat kenangan bersifat menyedihkan. Antara lain saat kita kembali melintasi lorong waktu, dimana masa itu kita sedang mengalami banyak kesusahan, kebingungan, ataupun mengingat kejadian menyedihkan yang pernah dialami seperti pernah ditimpa bencana alam, dan lain sebagainya.

The Power Of Media

Media sosial (medsos) juga menjadi salah satu dari sekian platform online yang gemar menyajikan berbagai hal berbau masa lalu. Keniscayaan pengguna medos mengenai kegemaran berkunjung ke situs ataupun akun yang memberikan segudang ingatan mengenai reka ulang momen masa lampau adalah hal yang mungkin terbilang sangat mengasyikkan. Disamping bisa kembali mengingat masa kecil, kiat stalking informasi demikian memiliki nilai historis tersendiri bagi setiap kalangan.

Zaman serba modern seperti saat ini memang memberikan banyak sekali kemudahan dalam melakukan berbagai macam perilaku. Media sosial (medsos) juga merupakan bagian dari kecanggihan literasi media yang kian beragam jenisnya. Berbagai jenis media sudah menjamur pesat.

Pada umunya, fungsi media adalah untuk menyebarkan informasi dari segala penjuru jenis. Hingga dalam satu titik, menurut hemat saya. Media sosial pun kini berubah menjadi ladang para netizen untuk berkolaborasi menyajikan dan menjadikan sumber dari kegemaran mengingat ragam masa lalu.

Berdasarkan pengalaman, Facebook, Istagram, atau Twitter kini banyak menyajikan konten berbau nostalgia. Variasi menu penyajian informasi berbasis sejarah tersebut juga tidak satu arah. Dimulai dari jenis postingan berupa artikel yang membahas suatu peristiwa, pengalaman, maupun sebuah hasil publikasi penelitian.

Tidak hanya sajian berupa tulisan naratif, di platfrom netizen semacam Facebook dan kawan-kawan terkadang juga sering menyajikan konten flashback berupa foto maupun video yang diproduksi oleh akun khusus yang membahas bidang masalah terkait.

Selain sifatnya yang juga mampu memberi didikan bagi setiap penikmatnya, tayangan nostalgia dalam media sosial juga sebagai ajang hiburan. Di Instagram bisa saya ambil contoh ada akun @nostalgia90an yang mengulik berbagai sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan, kejadian khas tahun 90 an.

Saya sendiri pun sampai saat ini menempatkan situasi nostalgia di bagian paling spesial di hati paling dalam. Meskipun saya masih muda, bernostalgia terhadap kenangan masa lalu bukanlah sebuah kesalahan, melainkan bisa menjadi referensi menuju manusia lebih baik dari hari-hari sebelumnya, sebagai bahan renungan, dan sekaligus bahan edukasi diri. (*)

*Gayuh Ilham Widadi, Mahasiswa Aktif di Kota Purwokerto.

Facebook Comments