Sampah Makanan

1039
Ahmad Fairozi, Pendiri Rumah Baca Indonesia (Rumah Baca ID).

MENURUT data, Indonesia adalah penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi. Sebanyak 13 juta ton sampah makanan dihasilkan per tahun di Indonesia. Ironisnya, jika sampah makanan yang dihadilkan tersebut bisa dikelola dengan baik, maka hal itu dapat menghidupi lebih dari 28 juta orang. Seperti dikutip dari situs bps.go.id, angka ini hampir sama dengan jumlah penduduk miskin atau sekitar 11% dari populasi Indonesia menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2015.

Masih tentang angka, data BPS tersebut menunjukkan, impor limbah sisa makanan pada periode Januari-Oktober 2016 mencapai USD 2 miliar atau kurang lebih Rp 27 triliun. Artinya, Indonesia mengimpor sampah makanan dari luar negeri untuk keperluan seperti pakan ternak. Padahal, jika pengelolaan sampah dalam negeri ditingkatkan, Indonesia bisa menghemat lebih dari Rp 27 triliun. Salah satu caranya adalah memaksimalkan pengolahan sisa atau limbah makanan dari restoran, retail, maupun produsen.

Yang tak kalah mengejutkan adalah, sisa makanan sampah ini bisa semakin bertambah saat masuk bulan Ramadan. Data Dinas kebersihan DKI Jakarta, misalkan, menunjukkan total sampah di Ibu Kota bisa naik hingga 6.900 ton pada 10 hari pertama Bulan Suci. Nggak hanya di Jakarta, kota terdekat seperti Bekasi juga akan meningkat 10% dari jumlah normal (brilio.net). Jika dipikir-pikir, masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang boros dan kaya. Padahal, tidak begitu kaya-kaya amat jika dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika dan China.

Data BPS di atas juga ditegaskan kembali oleh Kepala Perwakilan Badan Pangan PBB (FAO), Mark Smulders. Menurutnya, pada tahun 2016 mengatakan, di Indonesia sampah makanan mencapai 13 juta ton setiap tahunnya. Sampah makanan ini kebanyakan dari ritel, katering, dan restoran. Perilaku masyarakat yang sering tidak menghabiskan makanan juga berkontribusi terhadap besarnya jumlah sampah makanan di Indonesia. Berat ini sama dengan 500 kali berat Monas di Jakarta. Bahkan data tahun 2014 menunjukkan, sebanyak 1,3 milyar ton makanan terbuang setiap tahunnya di dunia, dan Indonesia menyumbang 21 juta ton, sebagaimana dikutip dari akun Facebook Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO Indonesia) World Food Day Indonesia.

Economist Intelligence Unit (EIU) pada tahun 2016 menempatkan Indonesia sebagai nomor dua penghasil sampah makanan terbanyak di dunia setelah Saudi Arabia. Dalam data tersebut dijelaskan, bahwa pola konsumsi makanan masyarakat yang buruk membuat produksi sampah makanan semakin meningkat per tahunnya. Apa yang bisa kita lakukan setelah tahu fakta angka tentang data sampah makanan di Indonesia?

Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober adalah saksi dimana orang-orang ingin meningkatkan kepeduliannya terhadap masalah kemiskinan dan kelaparan. Menariknya, dilihat dari wkipedia.org, ketahanan pangan (food security) paling sering menjadi tema dalam perayaan Hari Pangan Sedunia. Hal ini penting karena ketahanan pangan merefleksikan kemampuan rata-rata individu untuk mendapatkan makanan dan ketersediannya.

Ditengah-tengah tingginya jumlah orang miskin, ada jutaan ton sampah makanan di Indonesia dan miliaran ton sampah makanan di dunia yang terbuang sia-sia. Sungguh memprihatinkan bukan?

Dilansir kompas, Sabtu, 13 Oktober 2018, peneliti memperkirakan jika pada tahun 2050 nanti, populasi global akan mencapai 10 miliar orang. Artinya, akan ada semakin banyak orang lagi yang memerlukan makan. Melalui publikasinya, mereka menyerukan untuk beralih pada pola makan nabati, mengurangi limbah makanan, dan memperbaiki pertanian dengan bantuan teknologi. (baca: Untuk Selamatkan Bumi, Konsumsi Daging Harus Dipangkas 90 Persen)

Dengan menekan separuh jumlah makanan yang terbuang, ahli memprediksi bahwa dampak pada lingkungan bisa berkurang hingga 16%. “Tidak ada solusi tunggal yang cukup untuk menghindari hal ini. Namun, saat solusi diterapkan bersama-sama, akan ada kesempatan untuk memberi makan populasi yang terus tumbuh secara berkelanjutan,” kata Marco Springmann, peneliti dari Oxford Martin Programme on the Future of Food and the Nuffield Departement of Population Health, University of Oxford.

Isu ketahanan pangan menjadi hal yang krusial dalam masalah ini. Pertumbuhan jumlah populasi dunia setiap tahun terus bertambah, sementara di sisi berbeda, ada miliaran ton sampah makanan terbuang sia-sia. Hal seperti ini tidak bisa terus dilanjutkan, sebab, para ahli tersebut memprediksi jumlah populasi akan menghancurkan kemampuan manusia untuk memberi makan dirinya sendiri.

Oleh sebab itu, maka dari saat ini harus ada solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah sampah makanan, agar kedepan tidak menjadi momok yang menakutkan bagi Indonesia dengan terjadinya pencemaran yang berdampak pada kerusakan lingkungan.

Tidak hanya mencari cara agar sampah makanan untuk dikelola saja, yang lebih penting dari hal itu adalah upaya penyadaran masyarakat akan masalah yang bisa ditimbulkan akibat banyaknya sampah makanan yang terbuang sia-sia. Artinya, sebaiknya masyarakat disadarkan untuk minimal tidak menyumbangkan sampah makanan dalam kesehariannya.

Budaya menghabiskan makanan adalah hal yeng perlu dikampanyekan kepada masyarakat, agar makanan tidak terbuang sia-sia, tapi makanan memang berguna sebagai bahan pangan untuk pemenuhan hidup sehari-hari. Semoga. (*)

*Ahmad Fairozi, Pendiri Rumah Baca Indonesia (Rumah Baca ID).

Facebook Comments