Sajak-sajak Tino Watowuan

233
Tino Watowuan. (file/dokpri)

Pada Helai-helai Kanvas

Sejak lembar waktu membuka perjalanan
hingga menutup kembali pintu dan jendela
setiap hari adalah bait-bait puisi mengelana
hinggap di atas helai-helai kanvas
pada sebidang dada masing-masing

Lantas kita membacanya selalu
dengan merias senyum dan tawa di wajah
atau mengusap kedua pipi yang basa
setelah dicuci bersih air mata

Diam-diam sang penyair tersenyum
ketika sedang mengintip raut para pembaca
komat-kamit menafsir makna
layaknya memecahkan kotak-kotak enigma
kemudian mengulum mantra-mantra
adalah sekelumit apresiasi sastra itu

Selalu begitu; begitu seterusnya!

(Kb, 24 Juni 2020)

Penyair dan Puisi Awal Mula Penciptaan

Sebagaimana telah kita ketahui. Sang penyair menulis bait-bait puisi dalam cinta yang luar biasa. Menata kata senantiasa.

Suatu ketika yang telah lama, menulislah penyair dengan tinta sabda. Di awal bait pertama, ia menulis langit dan bumi. Ada siang terang dan malam gelap.

Kemudian; cakrawala nan megah, yang memisahkan air dari air. Di atasnya langit membentang. Itulah bait ke dua.

Ditulisnya lagi darat dan laut dalam bait ke tiga. Di atas hamparan tanah ada tunas-tunas merekah, tumbuhan berbiji, juga pepohonan yang berbuah dan berbiji.

Pada bait ke empat; matahari dengan sinarnya menyoroti siang, lalu bulan dan bintang menerangi malam gulita.

Binatang yang menari dengan lincah dalam laut, dan burung-burung mengepakan sayapnya, untuk dapat memenuhi bumi. Ditulis dalam bait yang ke lima.

Penyair itu lanjut menulis semua jenis makhluk hidup, ternak, binatang melata dan binatang liar. Tak sanggup dijangkau angka.

‘Semua mesti dibaca, dirawat, dan dikuasahi secara baik.’ Katanya dalam hati. Maka ditulisnya pula manusia serupa citranya; baik lelaki yang tampan dan perkasa, maupun perempuan menawan nan jelita.

Adalah sepasang kekasih, yang kelak menghasilkan buah-buah cinta. Memenuhi seluruh ceruk bumi kini. Itulah bait ke enam.

Tak ada lagi bait ke tujuh. Sang penyair rehat sejenak, sembari tersenyum bangga menatap indah karyanya. Semua telah ditulis begitu apik dan sempurna dalam puisi awal mula penciptaan itu.

(Kb, 8 Juni 2020)

Baca: Sajak Tino Watowuan

Cerita Pada Musim Berlainan

Air yang tumpah di musim kemarau
tak pernah membenci langit
sebab ia tahu
uap tak pernah ingkar pada pulang

Tanah yang basa berkali-kali
tak pernah mencaci hujan
sebab ia paham
retak kerontang tubuhnya segera pulih

***

Mawar yang gugur di musim semi
tak pernah membenci angin
sebab ia tahu
sekali tempo tumbuh kelopak berbunga molek

Putik yang luruh berkali-kali
tak pernah mencaci embus
sebab ia paham
angin tak pernah dusta pada penyerbukan

***

Musim selalu memanen warna-warni cerita
serentak menawarkan pilihan:
luka atau sembuh, jatuh atau bangkit

(Kb, 9 Mei 2020)

Angin Ribut

Suatu hari angin ribut bertanya
kepada siapa saja
perihal pohon dan rumah
yang tumbang dan roboh

Ketika pohon tumbang
pernahkah kau menghitung
seberapa akar menopang setia?

Ketika rumah roboh
pernahkah kau mengukur
seberapa rumah dibangun kokoh?

Barangkali pohon atau rumah
atau kau yang keliru
menerjemahkan musim!

(Kb, 26 Mei 2020)

Menepi Sepi

Ketika corona mengekang langka
engkau sedang mencicipi lezatnya puasa
dan aku memilih meneguk nikmatnya puisi
dalam sunyi paling sepi

Sejenak menepi sepi
mendekap kedap puasa dan puisi
di tepian kesepian meronta jiwa
kita merindukan amin yang sama

Dalam sepi membatin:
Sudahkah engkau mendengar doa kami?

(Kb, 6 Mei 2020)

Perihal Puisi

Sebagaimana rumah ibadah
tempat penyair merapal dedoa

Nyanyian dari jiwa
dengan warna-warni nada

Ia tak bisa dipaksa pena
pula tak dapat ditahan sukma

Selalu memiliki cara
untuk menemukan pembaca

Bila telah tiba di titik jumpa
ia akan memancarkan bahagia
atau jujur meneteskan air mata

(Kb, 9 Mei 2020)

*) Tino Watowuan, lahir dan tinggal di Adonara, Flores Timur, NTT. Sedang belajar jadi buruh di kebun puisi; tukang pungut biji-biji kata. Beberapa puisinya pernah tayang di Flores Pos cetak dan online, Majalah Simalaba, Rumah Baca ID,  Jongflores.com, Nalarpolitik.com, Elkotha.com, Horizondipantara.com, Weeklyline.net, Kataberita.id, Puisi.id, dan Penakota.id.

Facebook Comments