Sajak-sajak M Hidayat

111
M. Hidayat. (File/Dokpri)

Terompah Kiai

Kemana suara terompah kiai yang kurindukan
Menyisakan tapak dalam senyapnya keheningan
Beradu denting, nyaring kegembiraan
Menghantam tanah mengahamburkan kenangan

Terompah kiai dari pohon siwalan
Mengukir bunga diatas kerasnya badan
Mengikat tali persaudaraan
Berjalan menampakkan keserasian

Kiai…
Kupinjam terompahmu
‘kan kumainkan mereka berdua
Agar bercanda tawa

Annuqayah, 2020.

Santri Kiai

Kami santri kiai
Perantau pada tempat yang diberi nama pondok islami
Kami santri kiai
Yang dititipkan kepada seorang murabbi
Kami santri kiai
Mengharap barokah ‘tuk masa depan nanti

Kami adalah seorang santri
Dari kiai Ali Fikri
Yang mengabdi atas perintahnya pada kami
‘tuk mengharap ridha ilahi

Wahai…
Kami terlahir dari lima huruf mulia
Yang sulit bagi orang memilikinya

Sin
Shalat jama’ah senantiasa berjema’ah

Nun
Kami senantiasa berada dalam haluan titik sang kiai

Ta’
Kami terus taat pada tangan-tangan kanan sang bapak

Dan juga ra’
Yang meliut bagai belut
Tak surut dikala penghalang menghadang kami

Ya’
Dikala Kiai sekarat
Kami ‘kan menyongsong ia dalam tandu berat

Annuqayah, 2020.

Simfoni Kehidupan

Kehidupan bagiku bukan apa-apa
Sebatas matematika
Yang berbekal rumus antara ada dan tiada

Kehidupan bagiku apa-apa
Sebatas aqidah
Yang melihat kekuasaan dan takdir dari-Nya

Kehidupan bagiku bukan apa-apa
Sebatas air
Yang bercucuran dari kedua mata

Kehidupan bagiku bukan apa-apa
Ia bukan apa-apa
Hanya mengikuti naskah yang diatur oleh-Nya

Hah…
Celoteh seorang hamba
Yang belum merasa akan arti kehidupan sebenarnya

Annuqayah, 2020.

Semerbak Parfum Kiai

Setangkai bunga melati
Menjalari tubuh kiai
Menghembus aroma ria
Mengalun bersama doa

Pada sesaknya antrean
Yang membentuk ular-ularan
Santri menciumi tahta kiai
Tuk pamit pergi kerumah abdi

Di balik kaca mobil
Para santri menampakkan lara
Menjatuhkan genangan air mata
Pada lesung pipi yang membentuk curam

Kini kami telah jauh pergi
Menjauh dari parfum yang kami rindui

Annuqayah, 2020.

Pemulung Barokah; CPA

Terberkatilah kalian pemulung sampah
Dengan barokah yang menyemerbak indah
Menanggung raga
Pada ikatan lidih di tangannya

Walau kesejukan air hujan
Melanda bumi sampah annuqayah
Ketelatenan mereka memulung kalian
Akan plastik organik yang berserakan di jalan-jalan

Semerbak harum sampah
Membakar bulu hidung
Isyarat ia tak mau menciumnya

Terberkatilah kalian pembuang sampah

Annuqayah, 2020.

Gema Kematian

Firman tuhan kami bubungkan ke langit hitam
Awan geram meminta hujan
Merintih kesaksian alam
Melepas raga dari cengkraman

Berjejeran bendera kuning di jalan persemayaman
Mengiringi ambulan yang mengusung badan

Dimana kala deretan santri berlinang meratapi kepergian
Air mata mulianya menggenangi langkah pengusung santriwan
Keluargaku yang merawat jasadku
Menanggung ketidakrelaan akan kelamnya pilu

Kini aku dibawa pergi oleh keranda hijau ini
Di iringi pasukan pramuka yang setia melawan kerumunan tangan-tangan pemegang

Annuqayah, 2020.

Nyai Tuan; Nyai Nafisah

Kasih sayang seorang nyai
Berubah bayang yang sirna di kegelapan
Merajut kesedihan pada santriwan dan santriwati
Di kala tuhan memanggil ia menghadap ke kharibaan

Bumimu annuqayah sedang bersedih
Merasakan kehilangan panutan
Merasakan risih
Di saat badan menanggung wabah virus yang menerkam kalangan

Kami menanti keharuman jasad nyai tuan
Menyemerbak harum bunga melati di halaman
Mengitari beribu orang yang meleburkan keheningan
Menyemarakkan lafad takbir di rumah tuhan

Tangan kami lonjorkan pada keranda yang dibawa
Ingin rasanya mengusung ke peristirahatan
Isyarat jiwa mendamba barokah darinya

Annuqayah, 2020.

Pelacur-pelacur Pesantren

Kupu-kupu berterbangan
Di tengah kesucian pesantren
Mereka berusaha menggerogoti keasrian kemaren
Yang tersisa sebuah tubuh berbaju kotoran

Ia hidangkan dua daging segar
Bervitamin kemaksiatan
Tak seorang sukar
Tuk menolak kenikmatan

Tuhan, mengapa ku harus terima daging racun itu
Padahal diri tak mau menanggung dosa
Meringik ketakutan raga
Pada kelamnya neraka

Pergi…
Kalian kupu-kupu
Dari desaku
Ku tak mau meneguk madu
Yang kau curi dari bunga lara

Pergilah jauh
Dari desaku
Sebuah ucap usir yang luluh
Isyarat diri tak mau dirimu

Hanya ampun yang ku pinta pada-Nya
Jauh dari rerumpunan dosa keluarga
Kembali menjajaki lajur sang kuasa
Dan terus istikamah
Bersama lakon seorang sutradara

Annuqayah, 2020.

Rona Yang Memudar; Kiai Ali Fikri

Aku mulai menyadari
Keriput kulit telah menyelimuti
Rambut putih tanpak menandai
Memikirkan ulah para santri

Engkau sabar memandu kami
Pada haluan yang diridai ilahi
Walau raga dan jiwa kau tak peduli
Menanggung sakit sayatan pisau belati

Ku berharap tuhan ‘kan memberkati
Tak sedikit upeti kami beri
Berbekal tulus hati
Kau ajari para santri

– Kiai Ali Fikri –
“terima kasih telah mendidik kami”

Annuqayah, 2020. (*)

*M. Hidayat, santri Annuqayah Lubangsa. Mahasiswa INSTIKA Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Prodi ES, tempat kelahiran Jelbudan, Dasuk, Sumenep. Sekarang sedang berteduh di Gubuk Sastra Annuqayah (GSA). Ia aktif di Sanggar Kopi, Iksaputra. Bisa kunjungi penulis di Fb: hidayat ad-dasuki Email: hidayataddasuki@gmail.com.

Facebook Comments