Sajak M Hidayat: dari Si Buruk Rupa, Doa-doa Hujan hingga Belajar Berpuisi

167
M. Hidayat. (File/Dokpri)

Si Buruk Rupa

Orang berkata ia “berwajah buruk”
Bertopeng simulakra
Ia dihujat, dihunjam kata-kata kotor
Yang keluar dari mulut-mulut pembual

Sungguh kasihan kau sayang
Harus meneguk pahitnya kehidupan
Tenggelam dalam penistaan

Menikam lara
Tergores duka
Jangan bersedih
Bangkitlah

Bahwa hatimu kuat
Selaksa baja yang tak mudah dibengkokkan

Annuqayah, 02 Maret 2020

Kekasih Malam

Bagaimana aku menikmati malam
Sementara kau terlelap dalam indahnya khayalan
Bagaimana aku mengobati kerinduan
Sementara kita terpaut jarak jauh antar keluarga
Dan dikau pendusta akan apa yang dijanjikan oleh kita

Kau durjana
Kau telah menancapkan duri-duri kerinduan
Yang membekas luka mendalam
Tak seorangpun dapat menyembuhkan
Akan penyakit hati yang bertajub kerinduan

0h… kekasih malam
Malam-malammu terasa buta
Terasa pahit ‘tuk dirasa
Sembari kau berkata
Aku hanyalah boneka
Yang kau mainkan semata

Namun aku sabar dan bahagia
Akan perasaan ini padanya

Annuqayah, 03 Maret 2020

Bermalam di Desaku

Sayup-sayup malam bersuara dzikir
Katak menggerutu meminta air
Jangkrik asyik bermain di tanah anyir
Sedangkan raga bermanja dengan tembakau berselimut pavir

Di bawah rindang bintang malam
Aku menyeruput kopi capucino
Yang hangat nan adem
Ditemani cahaya yang ku genggam
Selaksa diri di alam berantem

Dasuk, 04 Maret 2020

Resonansi Bumi

Gelombang elektromagnetik bumi
Mengguncang tanah pertiwi
Meretak tanah kerontang
Melebur semesta lapang

Angin topan menderu keganasan
Menampakkan geram berkepanjangan

Bahtera menghempaskan airnya
Menenggelamkan tanah kelahiran kita

Gunung memuntahkan lava
Mengalirkan api yang membara

Tanah menggoncang raga
Menguburkan makhluk diatasnya

Adakah sisa dari bencana

Annuqayah, 05 Maret 2020

Selamat Tinggal Raga; jiwa yang malang

Aku sudahi kehidupan ini
Dengan tekat yang tak ‘kan goyah
Bagai batu karang
Yang tak mungkin bongkah

Aku ingin kehidupan baru
Mengharap ia baik dari sebelumnya
Mencipta angan yang aku suka
Menggaik bintang yang aku damba

Berbekal “bismillah”
Aku lajuhi jalur itu

Annuqayah, 06 Maret 2020

Sebatas Dua Bola Mata; wanita misteri

Bilamana mata jauh memandang
Tabir-tabir bergelantung menjadi penghalang
Menghadang rona wajah yang memancar
Akan sinar yang tak mungkin pernah pudar

Pada sebuah dinding ia bersandar
Sakan-akan bidadari yang jatuh terkapar
Mengundang lapar
Pada binatang buas yang mencakar-cakar

Kutunggu ia keluar dari persemayaman
‘tuk menggodaku akan kehangatan pelukan
Dari sebuah tangan aku menemukan api
Yang menjalar ke ulu hati

Kini, bibit asmara mulai tumbuh di dalam dada

Annuqayah, 07 Maret 2020

Doa-doa Hujan

Rintik
Gemerincik
Memercik
Titik

Sebuah hikayat hujan
Pada doa-doa orang pedesaan

Annuqayah, 01 Maret 2020

Belajar Berpuisi

Pada puisi
Aku belajar membaca kehidupan
Merangkai bait harapan
Bersemayam dalam keindahan

Pada puisi
Aku belajar tabah
Memaksa otak bekerja
Mencari kata yang sulit dicerna

Pada puisi
Kuluapkan hasrat ini

Annuqayah, 08 Maret 2020

“penyair sejati adalah penyair yang tak menampakkan congkak ketika pena mulai menorehkan tinta”

Sepatah Kata; teman seperjuangan

Aku mencoba keluar dari sarang lebah
Yang mereka menyengat pada ragaku
Walau diri mendamba madu

Annuqayah, 09 Maret 2020

“terima kasih buat guru: Ust. Aldi, An-Naufil. Dan teman seperjuangan: Syarif, Ferry, Cak Iil, Hamdi, Tahol, Faiq, Dadang, Iwan”

*M. Hidayat, santri Annuqayah Lubangsa. Mahasiswa INSTIKA Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Prodi ES, tempat kelahiran Jelbudan, Dasuk, Sumenep. Sekarang sedang berteduh di Gubuk Sastra Annuqayah (GSA). Ia aktif di Sanggar Kopi, Iksaputra. Bisa kunjungi penulis di Fb: hidayat ad-dasuki Email: hidayataddasuki@gmail.com.

Facebook Comments