Sajak Hayyi Zawair; DI STASIUN

225
Hayyi Zawair
Hayyi Zawair

Di stasiun
Aku pandangi setiap langkah kaki
Di depan belakang, kiri kananku orang-orang lalu lalang
Manghantar dan menjemput
Entah gelisah atau kuncup bahagia
Di kedua matanya
Nampak ketenangan dan gelisah menggambar peta
Aku hadir memasang telinga dalam-dalam
Sekedar menguping percakapan demi percakapan para sepasang kekasih
Ibu ibu hamil, atau tukang jaga parkir dengan gumpalan asap dari mulutnya
Ada yang romantis, melancolis bahkan tragis

Di stasiun
Aku seperti menjemput luka
Menafsiri sendiri setiap cerita kehidupan yang akan datang
Aku bukan sopir angkot yang menunggu penumpang, bukan pula pengemis yang menanami tangannya dengan doa-doa
Aku hanyalah seorang pengantar yang melepas ikhlas setiap kepergian
Dan membiarkan dada sesak dengan ketakutan-ketakutan

Selamat jalan kekasih, semoga sampai dengan utuh
serupa cintaku yang tak pernah ganjil.

Stasiun Lama, 3 Februari 2017

*Hayyi Zawair, Lahir di Sumenep. Sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi swasta di Malang, Mantan Pak Lurah di UKM Teater KOPI, Unitri Malang. Sekarang sedang proses menyelesaikan studinya.

Facebook Comments