Rumah Kuburan

949
Rumah Kuburan
Ilustrasi. (Istimewa)

INI seperti sebuah mimpi. Aku berdiri di tengah kota yang tak pernah terduga. Sebuah kota menyeramkan sekaligus menawan, yang tak pernah terlintas dalam pikiran. Tapi akhirnya harus kuakui, aku mulai terpesona saat menatapnya untuk pertama kali. Seperti sedap aroma cinta pada pandangan pertama, kutapaki buminya dengan mesra.

Itulah kesan pertama saat aku menginjakkan kaki di sebuah kota yang tak pernah terbayangkan, kota Yerusalem. Kudengar kota ini berdiri dengan seuntai kisah masa lalu yang luar biasa. Satu-satunya kota yang tak ada duanya di dunia. Ya, sebuah kota yang hidup dua kali, di bumi dan di langit. Sebuah kota yang selalu menari-nari di antara kedua alis, menjadi pusat mata dunia.

“Kota ini selalu menjadi rebutan. Semacam hadiah kemenangan bagi yang mampu menaklukkan, dara dan nyawa melayang, pesta kematian yang mengerikan.”

Itulah kalimat pertama Yasmin saat pertama kali hendak membawaku menyusuri jalanan kota. Darinya aku mendapatkan pelajaran berharga, tentang kepastian yang tak bisa ditawar. Ditarik ulur serupa gembala. Macam dialektika perdagangan. Bernegosiasi apik mencari kelenturan harga, barter atau tawar menawar ala politik dagang sapi. Sayangnya tak ada. Kebijakan Tuhan tak bisa ditawar. Tak gentar akan gertak dan ancaman. Ah, Tuhan memang selalu kokoh berdiri di atas kakinya sendiri. Beruntung sekali yang mengeksekusi kelompok Bali Nine bukan tangan Tuhan, melainkan orang-orang yang takut akan gertak sambal ala menu lalapan. Kalau tidak, aku yakin mereka sudah lama mati tertembus peluru senjata laras panjang di Nusa Kambangan.

Kemudian, aku membayang kata-kata Yasmin, tentang kematian. Aku sudah tahu banyak tentang kota ini, meski hanya bersumber dari koran dan layar ajaib televisi. Simbah darah seringkali mengucur membasuh debu dan tanah. Nyawa lebih sering melayang seringan kapas ditiup angin, segemulai awan yang berarak dari utara ke selatan, menjemput kematian. Macam seonggok tubuh yang hanya tinggal menunggu waktu untuk menghembuskan nafas menuju rumah terakhir. Beberapa istilah kelam mulai merangsang imajenasi liar: Kota peperangan, kota pertikaian, kota penjagalan, kota kematian, dan tentu yang lebih mengerikan adalah… rumah kuburan.

Rumah kuburan. Ya, aku lebih suka menyebutnya demikian. Sebuah perjalanan profesi telah membawaku kesini. Meliput warisan masa lalu yang membawa tanah ini pada gemerlap nafsu masa kini. Di sinilah aku bertemu Yasmin, orang baru yang tiba-tiba begitu dekat denganku. Perempuan pemandu wisata berhidung mancung yang mencintai tanah kelahirannya sebaik ia mencintai tubuhnya yang bugar semampai. Bola matanya kebiruan, macam kerling kilau permata. Beberapa kali aku harus mengelap keringat meski mata tak mau berhenti menguliti setiap lekuk tubuh kota, juga tak mampu membunuh decak pukau pada wajah Yasmin yang purnama.

Pembicaraan

Kami naik mobil milik perusahaannya, sebuah perusahaan penyedia jasa travel lengkap dengan paket wisata. Mesin mobil meraung bergerak pelan. Yasmin seakan mengerti getaran hatiku yang ingin menikmati setiap jengkal tubuh kota. Rumah-rumah tak bergenteng berjejer rapat. Hanya beberapa saja pepohonan yang terlihat rindang. Mungkin benar, setiap yang bernama kota itu sama saja. Tak sedikitpun menyisakan ruang bagi udara untuk bersenandung riang dengan dedaunan.

  • 3
    Shares

Facebook Comments