Puisi-puisi Tino Watowuan

337
Tino Watowuan. (dokpri)

Hujan dan Ingatan

Hujan jatuh remah-remah. Menari gemulai. Menjahit bilur-bilur luka. Di wajah musim gigil. Memeluk dedoa jiwa-jiwa kerontang. Rerinai menggenang tenang kenangan. Jejak melukis sajak basah di ingatan yang enggan keriput. Adalah milikmu. Milikmu!

Kb, 2020

Di Malam Sepi

Malam telah terkulai. Menyerah pada hening paling bisu. Lamat-lamat riwis gerimis mengabari sepi. Sepi: aku menanti diriku sendiri. Sendiri dalam sajak berhamburan. Belum rampung dipungut. Roda waktu tak mau menunggu lama.

Kb, 2020

Baca: Sajak Tino Watowuan

Deruh di Ubun-ubun

Deruh yang menderuh di ubun-ubun. Riuh, segala bertajuk angan yang patah. Jarum waktu tusuk menusuk. Berselimut bara api membara. Adu beradu gaduh mengaduk. Terkapar terbakar api resah di dada.

Kb, 2021

Kisah Secangkir Kopi

Tak ada lain yang lebih tulus. Dalam kisah secangkir kopi. Selain gula kepada rasa itu. Diam-diam melarutkan diri. Untuk setiap desah nikmat. Walau tahu dilupakan akhirnya. Adakah kita rela menjelma gula?

Kb, 2020

Baca: Sajak-sajak Tino Watowuan

Cinta Itu Anu

Sejatinya cinta itu anu. Air yang jatuh ke bumi. Ia hendak mencari liang. Merangkak menuju muara. Mencari liang; menuju muara!

Kb, 2020

Keabadian Adalah Ketiadaan

Layaknya embun. Dijilat mentari. Atau debuh. Tersapu angin. Pagi akan pamit. Lalu siang jelang. senja datang ganti. Begitupun malam tutup segala.

Kamarin, hari ini, atau esok hari. Perihal yang diagung-agungkan. Akan menjadi ketiadaan. Di mata waktu hanyalah bayang semu. Keabadian adalah ketiadaan.

Kb, 2021


*) Tino Watowuan. Lahir dan menetap di Adonara, Flotim, NTT. Lelaki penikmat kopi yang lahir pada tanggal 13 Juni, belum lama ini belajar menjadi buruh di kebun puisi; tukang punggut biji-biji kata.

Facebook Comments