Puisi-puisi Tino Watowuan: Di Pucuk Januari hingga Daun Jati

348
Tino Watowuan. (dokpri)

Di Pucuk Januari

Mentari belum bangun dari rehatnya. Hujan gugur mengusung murungnya hari. Sebagaimana dahan lamatoro yang bergelantungan dikoyak angin semalaman.

Ibu enggan menanggalkan parang. Sebakul doa erat di kepalanya. Menyusuri pematang yang setia merekam kenangan yang tercecer.

Dalam lebat, hamparan pepadi kian menuai bulir yang menua, memeluk gigil. Bersama rerumput januari belum sempat disiangi tempo hari.

Sebagaimana mata ibu rebah memungut biji-biji kecemasan yang menempel di batang jagung. Angin dan tikus lebih awal memanen di pinggirnya.

Kendati matahari karam, senyum ibu terbit jua. Tatkala mengingat kisah usang milik nenek dulu. Sorgum untuk segerombolan pipit yang singgah itu. Kepalanya angguk-angguk kecil.

Alam bukan hanya tentang manusia dan hujan. Kini musimpun tak tuntas dibaca zaman. Sebagaimana puisiku tak rampung mengemas nenek moyang bersama ladang-ladangnya dulu.

Duh, sesekali aku ingin menjadi bocah kembali. Lalu tidur di mata ibu yang teduh itu. Membaca huruf-huruf tuk memukul ego dan lupa di kepalaku. Aku ingin awet muda.

Kb, 31 Januari 2021

Ladang

Helai-helai kenangan jalar menjalar. Hilir mudik di samping gubuk lusuh. Tempat ibu menyangrai segala mimpi.

Sepasang pipit mematuk ingatan. Wajah bocah-bocah telanjang dada. Memasang ranjau potongan bambu. Sambil meneteng senjata rakitan.

Tetiba gerimis menghapus bayang. Aroma jagung bakar dan asin keringat ibu. Masih menempel di saku celana.

Kb, 29 Januari 2021

Daun Jati

Gemulai daun-daun jati berdansa ria. Melagukan syair-syair musim semi. Setelah sekian lama memendam rindu.

Kau pun takjub menyaksikannya. Tanpa tahu seberapa cemas bertahan. Menanti balasan surat cinta dari langit

Kau kira ia sedang baik-baik saja. Tanpa tahu angin sedang mengintai. Dari balik dahan yang telah rentah itu.

Kb, 30 Januari 2021

Hujan Tumpah

Hujan tumpah menggenang mayapada. Menyeret pulang segala yang terbuang. Terapung sepanjang bibir selokan itu. Orang-orang berlarian memungutnya lagi.

Kita akhirnya dibuat mafhum. Segala yang telah lama digerus arus waktu. Suatu ketika kembali menepi di ingatan.

Mau tidak mau, suka tidak suka. Hanya ada pilihan setelah semua redah. Menertawai kesedihan atau menangisi kebahagiaan.

Kb, 30 Januari 2021

Monolog

Aku ingin menjadi puisi. Menulis senja di bibir dermaga, misalnya. Orang-orang menatap dengan senyum merekah.

Ah, orang-orang tak pernah tahu. Senja tak indah bila tanpa puisi!

Tapi barangkali senja tak pernah ingkar pada puisi yang telah menulisnya dengan cinta, bukan?

Puisi hanya untuk puisi. Tidak untuk apa-apa!

Ya, aku ingin menjadi puisi.

Kb, 22 Januari 2021


*Tino Watowuan. Lelaki penikmat kopi. Sekarang betah di kampung. Baginya, menulis puisi membuat pikirannya tetap sehat, selebihnya hanyalah kebetulan.

Facebook Comments