Puisi-puisi Tino Watowuan: Dari Perahu di Tengah Samudra hingga Corona

292
Tino Watowuan. (dokpri)

Perahu di Tengah Samudra : Bambe

/1/
Sebagaimana perahu di tengah samudra
ia masih seumur jagung tempo itu
pergi memburu fajar di langit Borneo

Tanpa boat mesin menggantung
tali dan mata pancing, pukat pun tiada
bekal sepotong peta dari ibu
tidak lupa dibawa serta

“Doaku di nadimu, nak!”
bisik ibu, sembari meneteskan air mata
sebelum akhirnya ikhlas melepas jangkar

/2/
Kini semakin dalam bertolak
tambah dalam nyalinya pula
ketika arus dan gelombang menyapa
tak surut tabah seret pendayung
dikayuhnyalah perahu tanpa henti
sambil membaca peta di dadanya

Di balik kemudi genggam percaya:
kisah seorang nelayan berjalan di atas air
menghardik laju angin redahkan badai

Nelayan itu akan selalu setia menuntun
sekaligus menopang untuk pulang
ke bibir dermaga penuh harap
tempat melarungkan letih pelayaran
juga cinta dan rindu yang ditabung waktu

Kb, 2020

Nelayan

Dari petang hingga pagi
lautan adalah meja judi
mengocok kartu-kartu nasib
layarkan ingin bersama angin

Di atas mulut gelombang itu
setia mengayuh takdir
menjalah mimpi anak dan istri
seperti ombak pada debur itu
doa dan nyali jadi jangkarnya

Kb, 2020

Corona

Tiba bak pencuri
menyusup seisi bumi
menghentak nurani
seliwer panik sana-sini

Banyak yang telah rebah
tidur berkalang tanah
duka menohok sukma
kalut merengsa jiwa

Entah sampai kapan
segala pinta dikabulkan

Kita debu di alas kaki-Nya
memikul salib
hanya dapat merayakan
kematian dalam diri sendiri
menuju paskah-Nya

Kb, 2020

Perut Ibu

Angin dan badai, hujan dan banjir
gemuruh gunung dan letusan
sakit penyakit manusia dan hewan
antara hayat atau mayat berkelindan
semua tumbuh menjalar di perut ibu

Dalam hati sungut bertanya:
bukankah kita telah menyemai bibit
dari telapak tangan masing-masing?

Kb, 2020

Di Sebuah Persimpangan

Seperti buku belum rampung dibaca
hidup pun melukis banyak lipatan
tanda dan isyarat pernah kaki memijak

Bola mata banyak memetik sudah
daun-daun makna yang menyembul
dari setiap bekas tapak kaki
sepanjang jalan di dua musim itu

Jalanan ajukan tanya selalu
perihal berhenti atau berlanjut
dan aku dan kau sama-sama pengembara

Mesti teguh kita pada kata-kata
tersimpul erat di balik sujud
dan puisi selalu menulis dengan cinta

Kb, 2020


*Tino Watowuan. Lekaki penikmat kopi. Sekarang ia betah di kampung, Adonara, Flotim, NTT. Beberapa puisinya yang lain masih berserakan di atas meja belajarnya yang hampir keropos.

Facebook Comments