Puisi-puisi MH Dzulkarnain

117
MH Dzulkarnain

Wanita Di Ujung Pena
;Sherli

Saat senja tiba tabah bersemayang di kelopak matanya
hujan pun hijrah keladang sajadah
elok kupandang wajah tak seberapa elok mekar bunga
rupanya rahasia tuhan di bibirnyalah berada
lenting bulu mata membuat senja manja terpesona
ia wanita yang terbit di ujung pena dan tenggelam ke palung dada

Annuqayah Mata Pena, 2021

Celoteh Anak Petani

aku anak seorang petani
gemar mereka-reka terik matahari
sawah, palung kolam, pohonan jati
dan sungai berdinding semak-semak duri
adalah cikal-bakal kaum petani

jemari-jemari kami enggan sugkar dari bersih
buat apa bersih, jika bersih pun tak nentu suci
tubuh kami telah dan selamanya akan bersih;
bersih dari jepretan wartawan
bersih dari sketsa dasi-dasi kedustaan
bersih dari lumut peradaban
juga bersih dari kesucian para tuan-tuan

di bumi ini, tanah yang “gemah ripa loh jenawih”
ilmu pun kami curi dari kawanan padi
dengan makna serat sabda nabi
dan cericit burung-burung pipit
mewakili rintih kami pada Sang Ilahi

Annuqayah Mata Pena, 2021

Katanya
;daduwi nh.

“aksara menjaksa kata” katanya
begitu pandai ia menjaksanya
kata demi kata ia anggap narapidana
mungkin saja?
aku terlalu kagum tanpa senyum
entah bingung atau sedang melamun
namun yang pasti
setiap kata adalah aroma dari tubuh seorang wanita

Annuqayah Mata Pena, 2021

Memori Kosa Kata ‘Kisah Pisah Kita’

Mungkin tak ada lagi cerita yang bakal kita bahas tuntas
Jika benang layang-layang kasih sayang telah rela kau lepas
Mendiami ruang dengan raung di kening penuh kunang-kunang kenang
Hingga jangkrik, cicak dan nyamuk pun
Kerap kali gundah bahkan gaduh membuat irama lagu
Hanaya untuk mengganggu percakapan kita
Di balik hitam waktu tak berpintu

Dan itu semua telah kuarsip dalam buku catatan
Meski sedikit dari huruf-hurufnya beterbangan
Menjelma merpati yang setia hinggap di jendela
Namun tidak dengan dua kata
Yaitu aku dan kamu yang telah dikutuk selamanya
Menjadi Maha Kita
Dalam memori kosa kata ‘kisah pisah kita’

Annuqayah Mata Pena, 2021

Risalah Seorang Petualang

Kini malam menjadi tantangan
bagi seorang petualang
merelakan diri nya bertelanjang
karena undang-undang yang ia pegang
lepas dari genggaman tangan

maka terpaksalah ia menaruh muka
di bawah atap purnama
bersama gantungan tanda tanya

Annuqayah Mata Pena, 2021

Setangkai Kisah Beranting Puisi
;daduwi nh.

Nuansa baru pagi itu aku menemukanmu di balik bilik mimpi
Etika tingka dan senyum yang tak pernah alpa sempurna mekar bunga
Nafas yang kau lepas berdesir meraba dada
Gincu seakan tak berguna pada kedua pipimu yang telah lebih dulu merona

Nostalgia bersama malam tak cukup mengobati goresan kenang
Ingatkah kau, dulu kita pernah pasang wajah di jendela Tuhan
Hampir dua puluh empat jam kita hitung bersama di kening malam
Aku dan kau memang diksi Tuhan yang larut dalam secawan peradaban
Laila dan majnun pun adalah bukti profil dari kisah kita yang terlarang

Lupakah engkau saat kata terucap pilu padaku?
Untuk apa kau menerima lelaki lain, jika kau masih menerimaku sebagai butiran debu di pipimu
Nestapa air mata yang berlinang deras disela-sela pipi itu, aku tak rela melihatnya jatuh

Nama kita telah diikrar oleh Tuhan dalam setangkai puisi
Alam pun gembira mendengarkannya
Desir ombak di laut sana akan hening seketika
Andai kata kita bertatap muka mencuci luka

Annuqayah Mata Pena, 2021

Setiap Tetes Keringat

Setiap tetes keringat adalah duka erat melekat
Membasahi punggung kami dengan celotehan mu
Wahai bangsat…

Palu yang kau anggap mainan ketukan
Kini mencabit-cabit keadilan
Dan membusuk segala ucapan
Yang tak sama sekali berwatakan kemanusian

Ingat…
Kami bukan lagi wayang pertunjukan
Yang semena-menanya kau pentaskan
Di telapak tangan perdaban suram
Di mana undang-undang
Sekarang menjelma udang-udang selokan
Hanya sebatas vokal dan konsonan
Merayu Tuhan ketakutan seorang bangsawan

Annuqayah Mata Pena, 2021

Mata Air Dan Air Mata Tanah Air Kami

Mata air tanah air kami
Mengalir dari sungai ke pinggir sawah
Dari muara ke palung samudra
Kita dapat melihat
Padi-padi merunduk menguning
Pada petani yang sedang duduk mengusap kening
Kita juga dapat melihat
Ikan-ikan lokan berlomba-lomba mendo’akan
Para nelayan yang sibuk memeluk angin dan angan

Sedangkan…
Air mata tanah air kami
Tersia-sia tumpah di pundak peradaban buana
Membasahi sajadah yang luas terbentang di dada
Menjelma hujan obituari di sudut koran atau di pojok majalah
Tangisan anak-anak, suara demontrasi pelajar menggema
Hingga celoteh-celoteh terngengeh para kaum lansia
Menampar wajahnya sendiri hingga mereka tak menyadari
Bahwa saudara sedarah sendirinya yang mengotori bumi ini

Aku seorang kawi hanya bisa meratapi alam buana ini
Ketika sunyi dan sepi bersetubuh di ranjang mimpi

Annuqayah Mata Pena, 2021

Lembaran Waktu

Lembaran waktu terus terbuka
Burung-burung hinggap di pundak rumah
Meratapi jejak subuh merangkul do’a
Becericit menyambut rona bagaskara

Aku masih berada di tepi gubuk mati
Menjemput segala yang surga pada lekuk tubuhnya

Aku pun terbangun dari ranjang Tuhan
Dengan serpihan angan menempel di tembok ruang
Cericit para burung masih tetap bersenadung
Memberi kabar, bahwa waktu telah membawanya pudar

Ternyata, di gubuk mati itu
Seorang perempuan
Yang selama ini menjadi penghuni detak waktuku

Annuqayah Mata Pena, 2021

Integrasitas Bangsa

Dari rahim bumi pertiwi
darah juang, darah kisah kasih sayang, hingga darah duka menganga
mengalir deras lepas ke muara dada bangsa
membingkai hangat kolom-kolom sejarah
merajut benang sutra nusantara di bawah dinamika pancasila

Sejak tahun seribu sembilan ratus delapan
waktu dimana Budi Utomo didirikan
sebagai wadah kebangkitan dan kesadaran insan
warisan nenek moyang—tak pantas kita telantarkan
sebuah organisasi urgensi dalam membentuk hakikat diri
penggerak serta penegak tonggak para muda-mudi
dengan landasan patriotisme dan ediologisme
memasung sepasang tangan dan membungkam lisan parasitisme

Mari bersama kita melangkah
sambil lalu mengunyah nikmat do’a pada yang Esa
memohon agar beni-beni nasionalisme diri
tetap selalu mengakar menjalar pada tubuh tabah ini
dan memohon agar otoriter kanan-kiri atau teori-teori basi
tak lagi menghantui bumi pertiwi

Tak lupa pula trisula sumpah pemuda
di setiap tanggal 28 Oktober
“Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa”
teruslah melengking membugkam hening
slogan abadi yang tak akan pernah sirna
berteduh utuh pada payung Indonesia kita

Pada saat itu pula bergibarlah merah-putih Sang Pusaka
dengan iringan irama Indonesia raya
harum namanya menyerbak ke plosok desa
hingga menyeruap ke palung kota
menggetarkan bibir-bibir para pencibir
menyampaikan syair-syair para penyair
menghangatkan zikir-zikir para pezikir

Di samping itu, undang-undang empat lima dan sila-sila yang lima
kita pikul bersama layaknya petani pada cangkulnya
kita sayangi bersama layaknya ibu pada anaknya
kita ajak berjejak bersama layaknya penyair pada setiap sajaknya
karena sekarang detak detik jantung masa
terus berlarian mengejar etika hidup bangsa

Inilah sketsa sederhana dari integrasi bangsa kita
menganyam estetik peradaban alam buana

Annuqayah Mata Pena, 2021

*) MH. Dzulkarnain nama pena dari Noer Moch Yoga Z. Pemuda kelahiran Sumenep, 16-06-2003. Alamat rumah Desa Gunung kembar Kec. Manding Kab. Sumenep, Santri PP. Annuqayah Daerah Lubangsa , Siswa kelas akhir MA 1 Annuqayah, Aktif di Organisasi Daerah ‘IKSAPUTRA’ (Ikatan Santri Pantai Utara), dan salah satu Masyarakat  ‘Majelis Sastra Mata Pena’. Buku Antologi bersamanya a.l.: Menjadi Sajak dan Jarak (Tazik zona barokah, 2020); Ajher (Keraton, 2020); Antologi DNP 11 KHATuLISTIWA (KKK, 2021). Dan beberapa karya lainnya pernah dimuat di Koran Jawa Pos Radar Madura (JPRM); Majalah Sidogiri (Sya’ban1442). dan beberapa puisi juga bisa di lihat di media Online : NU Online Sumenep; Takanta.id; ddl.

Bisa dihubungi lewat E-mail: mh.dzulkarnain2003@gmail.com, Instgram: @yoga_dzlkrnn.

Facebook Comments