Pesantren Adalah Sebuah Jawaban

511
M Fahmi
M Fahmi

Pembicara: Prof. H. Imam Suprayogo
Penulis: M. Fahmi*

“…Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai…” QS. al-A’raf: 179.

“Beruntunglah mereka yang berada di pesantren yang kemudian menimba sekaligus mengamalkan ilmu agama. Jujur, saya saja harus nekat membuat pesantren di dalam kampus negeri. Padahal sebetulnya hal tersebut tidak diperbolehkan. Tapi saya benar-benar nekat. Sebab jika tidak ada pesantrennya, maka mahasiswa tidak akan pernah bisa menjadi pintar. Menjadi pintar saja tidak bisa, apalagi menjadi baik. Baik itu kan berada di atasnya pintar,” begitulah tutur Prof. H. Imam Suprayogo dalam mau’idhoh hasanahnya di acara al-Halaqah al-‘Ilmiyyah yang diselenggarakan di Ponpes Anwarul Huda (24/2/17).

Mondok di pesantren itu penting. Dikatakan penting bukan sekadar basa-basi, tapi hal ini memang sebuah esensi. Tidak akan pernah bisa tercapai cita-cita lahirnya intelek yang ulama’, apalagi ulama’ yang intelek jika tidak mondok di pesantren. Malah akan menjadi tidak jelas: disebut intelek kok begitu, disebut ulama’ kok ya begitu. Bahkan kadang-kadang memalukan.

Baca Juga: Menjadi Santri yang Sesungguhnya

Ada kisah nyata yang menarik. Diceritakan ada seorang mahasiswa yang telah diwisuda dari sebuah kampus. Kabar lulusnya mahasiswa itu terdengar hingga ke telinga para tetangganya. Hingga masyarakat mengira bahwa mahasiswa tersebut sudah pintar, sudah siap terjun dan menerapkan ilmunya di dunia masyarakat. Disuruhnya mahasiswa tersebut untuk mengimami sholat di masjid, kemudian juga memimpin tahlil, memimpin do’a, istighosah, khotbah, dan acara keagamaan lainnya. Hal yang demikian kemudian malah menjadi beban bagi mahasiswa tersebut. Ijazah itu membebaninya, karena jika pergi ke mana saja ia menjadi bingung: akan disuruh ini, disuruh itu.

Akhirnya ia datang ke kampus untuk mengembalikan ijazahnya. Sungguh cerita yang memalukan. Itulah sebabnya, seseorang tidak cukup hanya dengan menjadi mahasiswa saja. Harus sekaligus mondok di pesantren. Karena jika hanya mengandalkan kuliah, maka dapat dipastikan ia akan menjadi bingung, dan pada akhirnya ia tidak bisa berperan di masyarakat. Kuliah itu cuma ceramah teori dan bercerita saja. Berbeda dengan pesantren yang langsung dilatih dan berlatih.

Facebook Comments