Pesan Dari Masjid Baitur Rohmah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad 1440 H, Jaga Akhlak

449

Sumenep, Rumah Baca Orid
Masjid Baitur Rohmah di Dusun Bungkandang, Desa Ketawang Laok, Sumenep, Madura, Senin, 19 November 2018 atau 12 Rabiul Awal 1440 H memperingati maulid Nabi Muhammad dengan lantunan sholawat.

Sebelum membacakan sholawat bagi sang baginda Nabi, Dewan Pembina Takmir Masjid Baitur Rohmah, Kiai Syihabuddin terlebih dulu memberikan mauidhoh hasanah.

Kiai Syihab, panggilannya, mengawali dengan bercerita tentang peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, yang telah dilaksanakan setiap tahun di Masjid Baitur Rohmah.

Hal itu, lanjutnya, telah direncanakan dengan seksama bersama pengurus takmir masjid. “Maulid Nabi telah setiap tahun dan menjadi acara tahunan yang diperingati masjid Baitur Rohmah,” katanya.

Berlanjut pada pokok pembahasan, Kiai Syihab mengawali dengan menjelaskan bahwa Nabi Muhammad diutus Allah SWT ke muka bumi tak lain adalah untuk memperbaiki akhlak manusia.

“Jadi, pada waktu Nabi Muhammad diutus Allah ke muka bumi adalah tidak lain untuk memperbaiki akhlak manusia,” jelasnya.

Ditegaskan Kiai Syihab, bahwa nikmat yang paling besar diajarkan oleh Nabi adalah nikmat akhlak.

Kiai Syihab pun menjabarkan, jika setidaknya ada dua perkara yang berkaitan dengan akhlak manusia. Diantaranya yakni, tentang kepatuhan terhadap larangan dan perintah Allah SWT.

“Pertama, menjauhi segala larangannya dan kedua, mengerjakan segala perintahnya,” tegasnya.

Disampaikan Kiai Syihab, dari kedua perkara tersebut, yang paling sulit dilakukan adalah menjauhi larangan Allah SWT. “Yang paling susah adalah menjauhi larangan Allah SWT,” imbuhnya.

Dijelaskan Kiai Syihab, semua manusia punya kemampuan untuk taat kepada tuhan, namun sulit untuk meninggalkan larangannya. Contoh paling nyata adalah bahwa manusia sulit untuk mengatur syahwat/nafsu.

“Nah, orang yang bisa mengendalikan syahwat/nafsu inilah yang termasuk orang-orang beruntung,” paparnya.

Ditambahkan Kiai Syihab, orang yang berani meninggalkan perkara dunia dan hawa nafsu, maka orang tersebut layak dosebut penerus perjuangan nabi.

“Sebab, pada dasarnya manusia dilahirkan ke dunia adalah sebagai pemimpin,” ucapnya.

Pesan terakhir Kiai Syihab pada mauidhoh hasanah tersebut adalah imbauan kepada para jemaah, untuk mempertahankan akhlak di tengah-tengah kehidupan jelang zaman akhir.

“Karena manusia tanpa akhlak dianggap tidak beragama, demikian pun sebaliknya,” tandasnya. (fairozi)

  • 13
    Shares

Facebook Comments