Perempuan Kertas

689
Perempuan Kertas
Foto Ilustrasi. (istimewa)

SETIAP pagi dan sore, wanita itu sering duduk di bangku halaman, dekat pohon imboh samping rumahku. Sering kutemukan ia membawa beberapa lembar kertas dan menulis sesuatu di sana. Katanya, yang ditulis adalah surat untuk suami tercinta, seorang pelaut yang sudah sangat lama tidak pernah kulihat lagi batang hidungnya.

Ketika ia ditanya, bagaimana ia dapat mengirimkan surat itu pada suaminya? Sambil menunjuk pada burung-burung gereja yang sering bertengger di pohon imboh, dia berkata:

“Mereka adalah makhluk baik hati yang senantiasa mengirimkan surat-suratku untuknya.”

Orang-orang tertawa dan sering memperlakukan wanita itu sebagai hiburan. Tapi menurutku wanita memiliki cara yang absurd dalam menangani masalahnya yang sulit dipahami oleh lelaki. Sedangkan lelaki lebih mengacuh pada penggunaan logika.

Di rumahnya, wanita itu tinggal sendirian. Tak punya anak, sanak famili, dan harta benda. Ia berasal dari pulau seberang, aku sendiri tak tahu pasti di mana. Suaminya yang seorang pelaut memboyongnya kemari. Lelaki itu pun sebenarnya bukan penduduk asli di desa ini. Karena ditinggal pergi suaminya dan tak punya modal serta kecapakan kerja, para tetangga sudah cukup baik dengan memberinya makan setiap hari.

Dalam sebuah rumah tua berpagar batu, ia tinggal. Sangat-sangat sederhana. Di jalan depan rumahnya sangat sepi. Hanya debu yang tak berhati dan nasib yang murung melewatinya. Sering wanita itu hanya duduk termangu di beranda, menunggu kabar dari burung-burung gereja. Dan ia tak pernah mengeluh. Aku takjub pada kesabaran dan kesetiannya pada sang suami. Wajahnya selalu sayu. Tapi kurasa ia perempuan yang tangguh.

“Ceritakan padaku tentang suamimu,” pintaku, usai memberikan sebungkus nasi padanya. Ia menggelengkan kepala.
“Nanti kau akan tertawa seperti para tetangga,” jawabnya. “Orang boleh saja menertawakanku, tapi tidak terhadap suamiku.”
“Aku akan mendengarkanmu dengan baik.” Ia nampak ragu, namun akhirnya bercerita.
“Ia lelaki yang baik. Sangat baik.”
“Sebaik apa dia?”
“Ia pandai menyenangkan hatiku …”
dan sekaligus pandai meremukkannya? batinku.
“Ia berjanji, sepulang dari berlayar nanti akan menuruti apapun yang aku inginkan.”
Kau percaya?
“Dan ia selalu menepati janjinya.”

Benarkah?
“Apa saja isi surat yang kautulis untuknya?” Alisnya merapat mendengar pertanyaan itu.
“Hanya suamiku yang boleh tahu apa isinya.”
Kami diam beberapa saat.
“Kenapa ia tak pulang-pulang?”
“Ia pasti akan pulang. Mungkin sekarang masih belum dapat banyak uang.”
“Dan kau akan tetap menunggunya di sini?”

Ia tak menjawab.
“Kenapa kau tidak pulang ke tempat asalmu?”
Ia melemparkan pangdang ke ujung jalan.
“Apa lagi yang pantas dilakukan oleh seorang istri selain setia menunggu dan mendoakan keselamatan suaminya?”
Aku takjub.
“Bagaimana jika seandainya ia tak pulang?”

Dia diam.
Pertanyaanku mungkin terasa seperti udara yang beranjak dingin malam itu. Dan benar, matanya berkaca-kaca.
“Aku percaya padanya, jadi aku akan terus menunggu.”
Kurasa sebaiknya aku segera pulang dan membiarkan dia sendirian.
Setelah beberapa meter berjalan meninggalkan rumahnya, aku menoleh kembali pada rumah itu.
Rumah tua dan pagar batu. Kenangan lama dan sepi yang syahdu.(1)

***

Entah sudah berapa tahun dia masih tetap menulis surat.
Dari yang pernah kubaca sebuah buku (aku lupa judulnya), pikiran wanita sebagian besar dihabiskan pada orang yang dicintainya, kekasih atau keluarga. Jika wanita itu tidak memiliki siapapun di sini, aku tidak bisa membayangkan sedalam apa kesepian dalam dirinya. Namun aku juga tak habis pikir, bagaimana dia bisa tetap bertahan jika setiap waktu psykisnya digerogoti pikiran dan kesepian terus-menerus?

Hingga pada suatu hari, Kudapati dirinya begitu murung di bangku halaman itu, tempat di mana dia biasa menulis surat. Aku menghampirinya dan menanyakan keadaannya. Sambil menahan isak, dia bilang padaku:

“Aku sudah lelah sekali…” ia terisak. “Aku lelah menunggu dia dan balasan suratnya.”

Aku hanya bisa iba dan membimbingnya pulang.

Tetapi keesokan harinya berubah, seolah disapu angin begitu saja. Ketika aku pulang dari tempat kerja, dia berlari menghampiriku. Wajahnya berseri-seri di bawah sorot senja yang muram.

“Aku mendapatkan balasan surat dari suamiku,” katanya, dengan begitu sumringah. “Ia akan datang menjemputku, lalu kami akan naik ke puncak menara Eifel yang tinggiiiiiiiii sekali,” imbuhnya dengan sangat antusias.

Aku tersenyum melihat ia sebahagia itu. Namun, tiba-tiba terbersit sesuatu di kepalaku.
“Siapa yang mengantarkan suratnya padamu?” tanyaku.
“Tentu saja seekor burung yang ia mintai tolong.” Ia menunjuk ke pohon imboh, “Itu burungnya.”
Aku terperanjat. Itu burung gagak! (*)

# Rumah_Lamongan, 22 Februari 2014

Catatan:
1. Bunyi bait terakhir pada puisi Rendra yang berjudul Kenangan dan Kesepian.

*Agung Yuli TH, Lahir di Lamongan, 26 Juli 1988. Aktif bergiat di Gerakan Sastra Bong-Ang (GESANG) dan Komunitas Sanggar Sastra (KOSTRA) di Tuban. Sering menulis untuk media dan bersama kawan-kawannya pernah mengelolah majalah sastra dan budaya BONG-ANG.


Note: Cerpen ini pernah dimuat di koranmadura.com, diterbitkan ulang untuk tujuan pendidikan.

Facebook Comments

Berita sebelumyaKeheningan
Berita berikutnyaSampah
Admin adalah pengelola penuh redaksi Rumah Baca Orid di bawah Lembaga Penulisan Penerbitan Pers dan Jurnalistik (LP3J) Rumah Baca Indonesia (Rumah Baca ID). Kunjungi: www.rbi.or.id | Email: rumahbacaid@gmail.com