Pemuda dan Daun Emas

505
Ilustrasi tembakau. (Istimewa)

Daun tembakau, atau yang biasa dikenal masyarakat dengan julukan “daun emas”, merupakan sumber pendapatan terbesar kaum petani di daerah kami. Dari daun tersebut, para petani dapat meraup keuntungan sampai puluhan juta dalam waktu tiga bulan. Seperti halnya Cak Umar, seorang pemuda paruh baya yang bertani tembakau di daerah kami yang selalu bernasib mujur. Setiap panen tembakau, hasilnya selalu tak kurang dari 15 juta rupiah. Pada musim panen kali ini aja, ia mengantongi uang 35 juta rupiah dari hasil penjualan tembakau rajangannya. Biasanya, ia langsung menjual tembakaunya kepada juragan tembakau ladangan. Tapi untuk musim panen kali ini ia mencoba merajang sendiri dengan mempekerjakan beberapa orang untuk proses perajangan. Setelah dikeringkan, ternyata kualitas, tembakau rajangan Cak Umar bagus sekali. Corak warna dan aromanya diminati banyak juragan tembakau. Bahkan juragan gudang membelinya dengan harga jauh di atas harga tembakau biasanya.

Maka, setelah tersiar kabar tentang kualitas tembakau rajangan Cak Umar yag bagus dan mahal, masyarakatpun terheran-heran. Terutama Pak Nur yang memang punya ladang tembakau berdempetan dengan ladang tembakaunya Cak Umar. Kata Pak Nur, dari awal menanam, tembakau Cak Umar memang tumbuh lebih bagus dibanding tembakau lain disekitarnya.

“Sedari kecil tembakau Cak Umar tampak tumbuh dan berkembang dengan baik,” cerita Pak Nur suatu malam usai tahlilan di rumahnya Pak Jai. “Padahal, Cak Umar tak banyak memberi pupuk pada tembakaunya. Setahu saya, Cak Umar hanya memberi pupuk saat usia tembakaunya masih muda.”

“Tapi herannya, setelah dirajang, kualitas tembakau Cak Umar bagus sekali,” sambung Pak Munir yang kala itu juga ikut membicarakan tembakau Cak Umar. “Saya melihat sendiri tembakau rajangan Cak Umar saat dikeringkan di sebuah tanah lapang yang tak jauh dari rumahnya. Malah saat itu sudah ada juragan tembakau yang mengintai. Padahal tembakau rajangan Cak Umar masih belum kering.”

“Kabarnya tembakau rajangan Cak Umar dibeli Pak haji Pur, pemilik gudang tembakau yang terkenal itu,” kata Pak Jai sambil memijit-mijit betisnya selonjoran. “Bahkan Pak haji Pur membelinya dengan harga di atas harga rata-rata tembakau sini. Kata Bu Muna tetangga dekat Cak Umar, Pak haji Pur membelinya seharga 75 ribu rupiah per kilonya.”

“Ya mungkin memang rejeki Cak Umar ada di balik lembaran daun tembakau,” tukas Pak Nur. “Musim panen tahun lalu, Cak Umar juga menuai hasil berlimpah. Memang saat itu dia tak merajang sendiri, tapi hasil penjualan 20 ribu tanaman tembakaunya hampir mencapai 30 juta rupiah.”

“Heran saya, setiap musim panen, pasti tembakau Cak Umarlah yang jadi rebutan juragan tembakau”. Kata Pak Tris tukang bangunan yang juga berkebun tembakau.

“Kira-kira apa ya, rahasia keberhasilan Cak Umar dalam berkebun tembakau?,” tanya Pak Munir penasaran.

“Iya, saya juga heran,” sahut Pak Jai. “Saya amati setiap musim panen tembakau, Cak Umarlah yang paling mujur diantara kita.”

“Apa mungkin Cak Umar punya ajian kesugihan ya,” celetuk Pak Kadir yang sedari tadi diam-diam menyimak pembicaraan.

“Husstt, Gak baik buruk sangka pada orang lain,” tegur Pak Jai, “Lagian tak mungkin Cak Umar menggunakan cara gituan. Cak Umar orangnya anti tahayul.”

“Biar kita tidak menyangka Cak Umar yang bukan-bukan, sebaiknya kita langsung tanyakan aja sama orangnya,” usul Pak Nur meluruskan pembicaraan. “Siapa tahu Cak Umar mau membeberkan rahasianya. Kan jadi ilmu berharga buat kita”.

“Saya setuju pendapat Pak Nur,” timpal Pak Jai lantang. “Daripada kita penasaran dan menyangka yang macam-macam, mending kita temui Cak Umar aja. Lagian kita sudah lama tak silaturrahim ke rumahnya”.

Lalu kami semua menyetujui usulan Pak Nur yang bijak itu. Sesuai waktu yang telah kami sepakati, kami bersama-sama menemui Cak Umar di rumahnya. Untungnya Cak Umar tak pergi kemanan-mana saat kami mengunjungi rumahnya. Ia menyambut kami dengan penuh keramahan. Kamipun mengobrol kesana kemari sampai akhirnya Pak Nur berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan kami.

“Cak, sebetulnya kedatangan kami kemari punya keperluan khusus kepada sampean. Selain silaturrahim kami juga penasaran dan ingin tahu rahasia keberhasilan sampean dalam berkebun tembakau”. Tutur Pak Nur kepada Cak Umar.

“Betul Cak,” tambah Pak Jai. “Kami ingin hasil panen tembakau kami bagus, Kami ingin juga meraup untung besar seperti sampean Cak”.

Tapi Cak Umar tak segera menanggapi pembicaraan kami. Sesaat ia tertawa kecil lalu berkata.

“Rahasia apa? Sampean ini ada-ada saja. Saya tak menyimpan rahasia apa-apa kok,” jawab Cak Umar seperti benar-benar tak paham.

“Kami semua kagum sama sampean. Setiap musim panen tembakau, pasti tembakau sampean diincar-incar juragan tembakau. Makanya kami ingin menimba ilmunya dari sampean,” puji Pak Munir sambil merayu.

“Atau mungkin sampean punya cara berkebun tembakau yang beda dengan cara kami? Kami ingin sekali meniru cara sampean,” sambung Pak Tris memelas.

Tiba-tiba Cak Umar mempersilahkan kami menyeruput kopi dihadapan kami. Cak Umar seperti sengaja menggantung pembicaraan, membuat kami tak sabar menanti. Baru setelah menyulut sebatang rokok kretek, Cak Umar melanjutkan pembicaraan.

“Jujur saja, cara saya berkebun tembakau memang berbeda dengan cara masyarakat sini. Saya menerapkan cara almarhum Bapak saya dulu di Madura,” terang Cak Umar mulai terbuka.

“Andai Cak Umar sedikit mau berbagi ilmu kepada kami, pasti kami semua sangat berterima kasih,” bujuk Pak Kadir penuh harap.

“Betul sekali, kami memang sangat membutuhkan pengetahuan tambahan dari sampean Cak,” imbuh Pak Tris.

Maka, setelah kami mendesaknya, akhirnya Cak Umar bersedia membagi ilmunya kepada kami.

“Baiklah saya akan berbagi pengetahuan kepada sampean tentang apa yang saya terima dari almarhum Bapak saya,” kata Cak Umar.

Kini Cak Umar benar-benar telah siap berbagi ilmu kepada kami. Ia mematikan dan membuang puntung rokoknya ke dalam asbak beling di depannya, lalu mulai berbicara.

“Dulu, waktu saya masih kecil, Bapak pernah berkata kepada saya,” Cong, kamu anak laki-laki Bapak satu-satunya. Nanti kalau sudah besar, kamu harus bisa bantu Bapak berkebun tembakau”. Kata beliau yang biasa memanggil saya “kacong”. Maka sayapun bertanya kepada Bapak tentang cara berkebun tembakau yang baik. Nah, saat itulah Bapak memberikan penjelasannya panjang lebar.

“Sebetulnya berkebun tembakau itu gampang-gampang susah Cong,” kata beliau, “Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan. Diantaranya, tahap penyiapan lahan. Tahap ini merupakan tahap permulaan yang biasanya diawali dengan mengolah atau membajak tanah yang bertujuan untuk membantu penguapan (evaporasi) air yang tersimpan dalam tanah sehingga menciptakan ruang pori tanah yang seimbang antara oksigen dan air. Para petani umumnya membajak tanahnya dengan bantuan sapi ternak. Sebagian ada juga yang menggunakan mesin. Setelah itu, tanah didiamkan dua atau tiga hari sampai rerumputannya mati dan membusuk. Nah, pembusukan itulah yang nantinya akan membantu mengembalikan kesuburan tanah yang sebelumnya sudah pernah digarap. Tahap berikutnya yakni pembuatan lubang gulutan (cokla’an). Cokla’an ini merupakan lubang tanam bibit tembakau yang ukurannya kira-kira sedalam dan seluas mata cangkul. Satu lubang untuk ditanami sebatang bibit tembakau. Namun, sebelum lubang-lubang cokla’an ditanami bibit tembakau, terlebih dahulu harus dibubuhkan pupuk bekal. Biasanya para petani banyak menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk bekal. Baru kemudian bibit tembakau sudah bisa ditanam di lubang cokla’an tersebut. Bibit-bibit tembakau yang baru ditanam harus disiram setiap hari secukupnya. Untuk pemupukan susulan cukup seminggu sekali. Para petani banyak menggunakan pupuk organik untuk pupuk susulan. Setelah tembakau kira-kira berusia sepuluh hari, maka dilanjutkan dengan tahap penimbunan pangkal pohon tembakau. Penimbunan ini bertujuan untuk menguatkan akar tembakau, sehingga pohon tembakau tidak mudah tumbang diterpa angin. Selain itu, penimbunan juga bertujuan untuk menggemburkan tanah sehingga akar tembakau dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Nah, penimbunan biasanya dilakukan dua kali saat tembakau masih muda. Penimbunan pertama disebut kegiatan “abulut”. Kegiatan abulut dilakukan saat usia tembakau kira-kira sepuluh sampai lima belas hari. Sekitar seminggu kemudian, disusul penimbunan kedua yang disebut dengan kegiatan “malo”. Setelah usia tembakau mencapai tujuh sampai delapan minggu, maka pucuk daun tembakau perlu dipotong. Pemotongan pucuk daun inilah yang disebut dengan kegiatan “nokok”. Kegiatan ini bertujuan untuk mempercepat penuaan daun tembakau. Kurang lebih tiga minggu dari kegiatan nokok, maka tembakau sudah boleh di panen. Nah, begitulah kira-kira cong cara berkebun tembakau yang diterapkan para petani di desa kita ini,” lalu Bapak menyudahi penjelasannya. Saya yang waktu itu masih SD, tidak kepikiran bahwa apa yang baru diterangkan Bapak merupakan ilmu yang berharga. Tapi sekarang saya sudah merasakan manfaatnya”.

Cak Umar mengakhiri ceritanya dan langsung menyeruput kopi yang ada didepannya. Namun kami yang sedari tadi serius mendengarkan, merasa kurang akan pengetahuan yang baru saja dibagikan Cak Umar. Terutama Pak Jai yang sedari tadi paling khusyu’ mendengarkan.

“Kepalang tanggung Cak, kami juga ingin tahu cara pengolahan tembakau seperti yang kemarin sampean terapkan,” kata Pak Jai manja.

“Iya Cak, kami masih siap kok mendengarkan, kalau sampean bersedia menjelaskan,” rengek Pak Kadir.

“Waduh, gimana ya?,” jawab Cak Umar garuk-garuk kepala, “Bukannya saya gak mau berbagi kepada sampean semua. Tapi, soal perajangan tembakau saya juga belum paham betul. Kemarin saja saya membayar orang untuk proses perajangan tembakau saya. Lagi pula proses pengolahan tak cukup hanya dijelaskan dengan kata-kata. Tapi kita harus mengamati langsung tahapan-tahapannya”.

“Ah, sayang sekali ya, kemarin kita tak kesini saat pengolahan tembakau Cak Umar. Coba kemarin kita ada disini, pasti kita sudah tahu bagaimana proses pengolahan itu,” kata Pak Tris penuh penyesalan.

Lalu, sesaat pembicaraan kami terhenti. Kami mencari akal bagaimana caranya agar bisa mengamati langsung proses perajangan. Cak Umarpun diam tercenung seperti sedang memutar otaknya untuk bisa membantu kami. Lalu tiba-tiba saja ia melontarkan pertanyaan kepada kami.

“Sampean semua mau nggak ikut saya?,” tanyanya. Tapi kami tak segera menjawab pertanyaan itu. Kami hanya tolah-toleh saling pandang satu sama lain, tak mengerti maksud ajakan Cak Umar. Tapi kami tetap diam sampai akhirnya Cak Umar kembali berbicara.

“Saya punya guru di daerah Madura, daerah asal saya.  Namanya Pak Sunarji, usianya, kira-kira sepuluh tahun di atas saya. Tapi soal tembakau, Bapak sayapun berguru kepada beliau. Sejak mudanya beliau memang menekuni bidang perkebunan tembakau dan dunia pertembakauan. Beliau jebolan fakultas pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB), sebuah kampus yang memiliki keunggulan di bidang pertanian. Malah dulu beliau termasuk megister termuda di daerahnya. Pengetahuan dan wawasannya dibidang perkebunan tembakau, banyak membantu perkembangan pertanian masyarakat sekitar. Nah, kira-kira sampean semua mau nggak, kalau saya ajak menemui beliau?, Nanti kita belajar banyak kepada beliau tentang dunia tembakau, termasuk proses pengolahannya”.

Setelah menyimak keterangan Cak Umar tentang gurunya itu, maka tanpa ragu kami mengiyakan ajakan Cak Umar. Kami tertarik untuk berkenalan sekaligus berguru kepada pakar tembakau yang bernama Pak Sunarji itu.

Maka setelah rencana dan persiapan kami sudah matang, kamipun bermotor meluncur ke Madura dengan tujuan dan niat menimba ilmu disana. Setelah beberapa jam dalam perjalanan, sekawanan motor kami tiba di Madura, tepatnya di Sumenep, sebuah kabupaten yang terletak di ujung timur pulau Madura. Rombongan kami yang dipimpin Cak Umar segera menuju tempat kediaman Pak Sunarji. Ternyata disana baru memasuki musim panen tembakau. Banyak tembakau rajangan yang dijemur di lahan-lahan kosong yang luas. Tak terasa akhirnya kami tiba di rumah Pak Sunarji. Seorang wanita berjilbab menyambut kedatangan kami dengan tutur sapa yang akrab.

“Eeh… Cak Umar. Lama ngak kemari kok tambah gemuk aja,” sambut wanita itu yang sepertinya sudah kenal dekat dengan Cak Umar. Lalu beliau mempersilahkan kami memasuki ruang tamunya yang cukup luas dan tertata rapi. Lalu Cak Umar memperkenalkan kami kepada wanita yang ternyata bernama Bu Ratna itu.  Setelah mengobrol sebentar dengan Cak Umar, Bu Ratna keluar ruangan. Lalu Cak Umar berkata pelan kepada kami.

“Beliau itu istrinya Pak Sunarji. Mereka dikarunia tiga orang anak, dua laki-laki satu perempuan”.

“Tapi, kok sepertinya rumah ini sepi banget ya…,” komentar Pak Kadir dengan pelan juga.

“Mungkin sebagian penghuninya masih belum pulang kerja,” ujar Pak Nur.

“Setahu saya Pak Sunarji bekerja di Dinas perkebunan. Panji, putera sulungnya sedang kuliah di luar kota. Sedang dua putera-puterinya yang lain saya kurang tahu,” ungkap Cak Umar.

Obrolan kecil kami terhenti setelah Bu Ratna kembali dan duduk menemui kami. Tak lama kemudian disusul seorang gadis yang wajahnya mirip Bu Ratna. Ia menyuguhkan minuman ke hadapan kami, lalu pergi.

“Silahkan, ini namanya teh poka, minuman kebanggaan warga sini,” hatur Bu Ratna.

Kamipun bersama-sama meneguk minuman yang aromanya saja menyegarkan itu. Tak lama kemudian, tanpa basa-basi Cak Umar langsung mengutarakan maksud utama kedatangan rombongan kami.

“Kami serombongan datang kemari, sebetulnya ingin menemui Pak Sunarji. Kami ingin belajar banyak tentang tembakau dan proses pengolahannya”.

Tapi Bu Ratna hanya diam tak menanggapi perkataan Cak Umar. Malah beliau termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.  Tapi Cak Umar mencoba mendesak Bu Ratna untuk bicara.

“Ini sudah jam 3 lebih, sebentar lagi Pak Sunarji pulang dari kantor kan Bu?,”

Bu Ratna tetap diam tak menjawab. Tapi mata beliau mulai berkaca-kaca seperti menyiratkan luka dalam di hatinya. Kami semua diam tak mengerti akan sikap Bu Ratna yang tiba-tiba berubah begitu saja. Tiba-tiba Bu Ratna berkata mengejutkan.

“Bapak sudah lama pulang, pulang ke rahmatullah”.

Kami tersentak mendengar ucapan Bu Ratna. “Innalillahi wainna ilaihi roji’un”.

Seketika suasana di ruang tamu menjadi haru dan sedih. Linangan air mata Bu Ratna mulai membasahi pipinya yang semakin keriput dimakan usia. Cak Umarpun tak kuasa membendung air matanya mengenang sosok gurunya yang banyak menumpahkan ilmu kepadanya. Sementara Bu Ratna terus berkata dalam tangisnya.

“Empat bulan yang lalu, Bapak menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD. Kepergiannya tak hanya menggoreskan luka pada keluarga kami. Tapi juga menyisakan duka bagi masyarakat sekitar sini, khususnya mereka kaum petani”.

Kami hanya bisa menghela nafas panjang mendengar perkataan Bu Ratna. Berharap semoga beliau tetap tegar menjalani cobaan yang dihadapinya.

Setelah suasana kembali tenang seperti semula, maka Cak Umar mewakili rombongan meminta maaf kepada Bu Ratna atas kehadiran kami yang mengundang kembali duka yang telah lalu. Kamipun segera pamit pulang tapi Bu Ratna mencegahnya.

“Loh, kok mau pulang?, katanya mau tahu proses pengolahan tembakau,” kata Bu Ratna yang wajahnya mulai binar kembali.

“Kalau memang ada orang yang siap membimbing kami, kami siap belajar,” jawab Cak Umar tak putus asa.

“Begini saja, urusan belajar merajang belakangan, yang penting sampean semua menyaksikan dulu tahapan pengolahan tembakau,” kata Bu Ratna.

“Terus caranya bagaimana Bu,” tanya Pak Nur.

“Sampean semua bermalam disini aja. Besok pagi. Pak Halil tetangga sebelah mau merajang tembakaunya. Masyarakat sini biasa meniru cara Bapak dalam perajangan. Nanti sampean amati sendiri bagaimana prosesnya,” jelas Bu Ratna.

“Kalau begitu biar besok saja kami kembali kemari. Malam ini kami mau menginap di rumah orang tua saya aja. Terima kasih atas kebaikan Ibu”.

Kemudian sekawanan motor kami meninggalkan rumah Bu Ratna dan langsung menuju rumah orang tua Cak umar yang kini ditempati adik bungsunya sekeluarga. Letaknya sekitar 10 km dari rumah Bu Ratna.

Kesokan harinya, rombongan kami kembali ke rumah Bu Ratna, lalu bersama-sama menuju rumah Pak Halil untuk membantu sekaligus mengamati langsung proses pengolahan tembakaunya. Kami terheran-heran setelah melihat warga sekitar yang berduyun-duyun membantu Pak Halil. Kata Bu Ratna, mereka adalah warga desa yang juga berkebun tembakau. Mereka sudah biasa bergotong royong setiap musim tembakau. Bahkan mulai tahap penanaman sampai panen, mereka sudah biasa saling membantu. Tanpa malu-malu kami berbaur dengan mereka, membantu Pak Halil sembil lalu mengamati.

Seperti yang kami amati, tahapan pengolahan tembakau setelah panen memang banyak menguras tenaga. Pertama, diawali dengan kegiatan pemeraman selama tiga hari sampai daun tembakau menjadi hijau kekuningan atau kuning kehijauan, kemudian dilanjutkan dengan penggulungan daun. Lembaran daun tembakau yang sudah diperam dan menguning itu digulung hingga berdiameter kurang lebih 10 cm dan panjang kira-kira 25 cm. Lamanya proses penggulungan daun tembakau tergantung banyaknya tenaga dan daun tembakau. Kemudian dilanjutkan dengan proses perajangan atau pemotongan daun secara halus. Gulungan-gulungan daun tembakau satu persatu dimasukkan ke dalam alat perajang khusus terbuat dari kayu, lalu dihaluskan perlahan dengan pisau besar berbentuk setengah lingkaran. Setelah daun tembakau dihaluskan, lalu ditata rapi di atas wedik khusus terbuat dari irisan bambu yang dirakit. Luasnya kira-kira 1×2 meter. Warga setempat menyebut wadah itu “saleksek” atau “saksak”. Sedangkan kegiatan penataan tembakau rajangannya di sebut kegiatan “nalah” atau “aronjey”. Banyaknya saleksek atau saksak yang dibutuhkan untuk kegiatan nalah atau aronjey, tergantung banyaknya tembakau rajangan. Baru kemudian tembakau rajangan dikeringkan secara alami di bawah terik sinar matahari langsung. Jika kondisi cuaca cerah dan sinar matahari maksimal, maka satu setengah hari saja tembakau rajangan sudah kering sempurna dan dilakukan pembalikan untuk mengeringkan bagian bawahnya. Begitulah proses pengolahan tembakau menurut pengamatan kami, dan kamipun bertekat untuk menerapkan pengetahuan dan teknik bertani tembakau yang dilakukan petani tembakau di Sumenep. (*)

*Hidayatullah, memiliki dorongan untuk memperhatikan nasib petani tembakau yang hampir berada di persimpangan jalan. Kelahiran Sumenep, Madura.

  • 9
    Shares

Facebook Comments