Paradigma Baru tentang Spiritual Quotion

574

Oleh: Obik Andawiya*

Pada umumnya, ada tiga kecerdasan yang sering menjadi pembahasan setiap orang. Tiga hal ini dikait-kaitkan dengan kemampuan dan kehidupan seseorang sehingga menjadi apa, karakter yang bagaimana bahkan sukses tidaknya seseorang diasumsikan melalui ketiga kecerdasan tersebut ; Intelligence Quotion (IQ), Emotional Quotion (EQ) dan Spiritual Quotion (SQ). Sejak kapan sih sebenarnya ketiga kecerdasan tersebut digempar-gemparkan dan dibicarakan oleh kaum di dunia ini?

Sejak dulu, manusia mengagung-agungkan kemampuan otak dan daya nalar (IQ). Kemampuan berpikir dianggap dewa, sehingga kemampuan dan potensi diri yang lain dianggap inferior dan selalu dimarginalkan. Tak lama kemudian, Daniel Goleman memperkenalkan teori kecerdasan emosional yang pada saat itu menjadi trend yang luar biasa. Bermula pada 1990-an Daniel Goleman terus-menerus mengelaborasikan temuan-temuan mutakhir bidang neurologi dan psikologi, kemudian memformulasikannya menjadi sesuatu yang dinamakan sebegai kecerdasan emosional.

Dia menjelaskan dalam bukunya, Emotional Intellegence bahwa kecerdasan Emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri serta dalam hubungan dengan orang lain. Sejak saat itulah orang beranggapan bahwa kesuksesan akan dicapai jika ada keseimbangan antara IQ dan EQ.

Lalu bagaimana dengan SQ ? Tak lama kemudian, ia muncul atas pemikiran sepasang suami istri Danah Zohar dan Ian Marshall. Mereka menyatakan bahwa secara spesifik, Spiritual Quotion merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna serta nilai hidup, menempatkan perilaku dalam konteks makna secara lebih luas dan kaya. Oleh sebab itulah mereka menganggap bahwa SQ merupakan prasyarat bagi berfungsinya IQ dan EQ secara efektif.

Jika Daniel Goleman melihat bahwa keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh tinggi-rendahnya IQ seseorang yang bersangkutan, tetapi bagaimana seseorang tersebut mengelola hubungan antarpersonal secara lebih bermakna. EQ telah memberikan rasa simpatik, cinta, ketulusan, kejujuran, kehangatan dan motivasi serta memberikan kesadaran mengenai perasaan milik diri sendiri dan orang lain. Maka Ian Marshall dan Danah Zohar, dosen Oxford dan Harvard tersebut membantah dan mengkritik kecerdasan EQ yang dianggap awal mula mengelaborasi temuan-temuan ilmiah menjadi kecerdasan spiritual dan mereka juga menolak bahwa SQ dikaitkan dengan agama yang bersifat definif.

Hal itu juga diperkuat dengan riset yang dikembangkan oleh V.S. Ramachandran pada 1997 yang menemukan adanya God Spot dalam otak manusia yang merupakan pusat spiritual yang terletak diantara jaringan saraf dan otak sebagai referensi utama membangun kecerdasan spiritual. Begitu juga hasil riset yang dilakukan oleh Wolf Singer bahwa adanya proses saraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup manusia.

Facebook Comments