Merenungkan Kembali Substansi Makna Agama

440
Merenungkan Kembali Substansi Makna Agama
Prof. H. Imam Suprayogo

BANYAK orang berbicara agama, tetapi seringkali melupakan substansi makna agama itu sendiri. Mengenal agama Islam misalnya, dimulai dari belajar tentang rukun Islam, rukun iman, dan sejenisnya. Kemudian dilanjutkan dengan mengenal shalat agar dapat menjalankan sebaik-baiknya. Sudah barang tentu, apa yang dilakukan itu tidak keliru. Semuanya adalah betul. Akan tetapi, selain belajar shalat juga perlu memahami substansi shalat itu sendiri sebenarnya untuk apa.

Pesantren Adalah Sebuah Jawaban

Demikian pula belajar agama, seharusnya diketahui dan dihayati benar untuk apa seseorang harus beragama. Dalam beragama, diperkenalkan tentang Tuhan, utusan Tuhan, berbagai jenis makhluk Tuhan, manusia, keselamatan dan kebahagiaan serta bagaimana meraihnya, kehidupan setelah di dunia ini, dan seterusnya. Sebaliknya, juga seharusnya diketahui jika seseorang tidak mengenal tuhannya dan bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. Dengan penjelasan dimaksud maka akan menjadi jelas kegunaan agama itu sendiri.

Memahami hal tersebut menjadikan seseorang mengerti tentang peta kehidupan itu sendiri. Bahwa hidup ini tidak ada yang serba kebetulan. Ada kekuatan yang menciptakan, ada tujuan, ada kehendak, ada sesuatu yang akan diraih, ada kelanjutan dalam kehidupan ini, dan seterusnya. Pengetahuan itu menjadi penting sebagai dasar untuk membangun kesadaran bahwa hidup ini sebenarnya memiliki arti dan juga nilai yang sedemikian mahal. Sementara orang kemudian mengatakan bahwa hidup ini hanya sekali, sehingga harus dijalani sebaik-baiknya.

Agama memberikan petunjuk bagaimana menjalani kehidupan, agar diperoleh keselamatan, kebahagiaan, dan kedamaian. Sudah barang tentu, gambaran hidup yang ideal itu tidak mudah diraih. Persoalannya bukan saja terletak pada alam di mana kehidupan berlangsung, yaitu selalu tidak mudah ditaklukkan, tetapi diri manusia sendiri juga tidak gampang dikendalikan. Manusia memiliki sifat ingkar terhadap tuhannya, suka bermusuhan, berkeluh kesah, bakhil, suka menentang, sedikit yang mampu bersyukur, selalu dalam posisi merugi, berlebih-lebihan, dan seterusnya. Mengendalikan diri sendiri yang memiliki ciri yang demikian itu bukan perkara mudah. Itulah perlunya agama dimiliki oleh manusia.

Oleh karena itu, di antara sekian banyak pengetahuan yang seharusnya dicari, agama mengajak untuk mengetahui tentang diri manusia sendiri. Manusia pada umumnya tidak saja tidak mengerti tentang kehidupan yang luas ini, tetapi ternyata juga tidak mengetahui tentang dirinya sendiri. Namun demikian, kelemahan itu juga tidak disadari. Bahkan sebaliknya, mereka lebih sibuk memahami orang lain. Tatkala belajar sejarah misalnya, manusia lebih menyukai sejarah orang lain, dan demikian pula ketika belajar tentang politik, ekonomi, pendidikan, budaya, dan seterusnya. Akibatnya, mereka banyak mengerti orang lain, tetapi tidak mengerti tentang dirinya sendiri.

Mental Takut Berubah

Terhadap diri sendirinya saja manusia tidak paham, maka betapa makhluk ini sebenarnya memiliki kelemahan yang mendasar. Kelemahan yang diawali dari tidak tahu tentang dirinya sendiri itulah menjadikan manusia bersifat sombong, congkak, berlebih-lebihan, tidak mau bersyukur, bakhil, merendahkan orang lain, dan seterusnya. Sifat-sifat rendah dan merusak itulah kemudian yang menjadikan kedamaian, keselamatan, dan kebahagiaan tidak pernah terwujud. Akibat sifat-sifat manusia yang dimaksudkan itu, maka kehidupan menjadi tidak tenteram, penuh dengan suasana konflik, berebut, saling mencari kemenangan, merendahkan dan menguasai yang lain, dan seterusnya.

Agama adalah sumber kedamaian, ketenteraman, dan kebahagiaan. Oleh karena itu, seharusnya dengan beragama maka kehidupan menjadi damai dan tenteram untuk metaih kebahagiaan bersama. Itulah sebagian dari substansi misi agama. Oleh karena itu manakala dengan adanya agama, kehidupan menjadi ribut, saling bermusuhan, konflik, dan seterusnya, maka substansi agama menjadi hilang. Akhirnya, agama menjadi tinggal nama, kitab suci menjadi tinggal tulisannya, tempat ibadah menjadi tidak membawa berkah, dan para pemukanya juga dianggap tidak bermakna, dan bahkan merugikan umatnya. Maka, agama harus dipahami hingga substansi maknanya. Wallahu a’lam.. (*)

*Prof. H. Imam Suprayogo, Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.


Note: Artikel ini diambil dari Facebook pribadi Prof. H. Imam Suprayogo, dimuat pada 15 November 2016. Diterbitkan ulang untuk tujuan pendidikan.

Facebook Comments