Menyemai Benih Etos Kerja bagi Pemuda

284
Gayuh Ilham Widadi. (dokpri)

Bekerja sedianya adalah kegiatan yang mengasyikan. Bagaimana tidak? sebuah pekerjaan yang dilakukan secara ikhlas, semangat, penuh optimistis niscaya mampu memberikan kebahagiaan, keuntungan bahkan kecukupan kebutuhan baik batin dan lahiriah.

Bekerja memang sebuah keharusan yang harus dilakukan guna menghidupi segala kebutuhan yang makin hari terkadang kurang bersahabat. Membangun sikap etos kerja dengan penuh keikhlasan sekiranya dapat mempermudah segala rintangan untuk dilewati, sedangkan bekerja disertai semangat pastilah mampu menambah energi dalam keseharian menjalaninya.

Baca: Nilai ‘Good Governance’ dalam UU Ciptaker Semakin Dikesampingkan

Tidak hanya untuk orang tua, bekerja juga harus dilakukan oleh kawula muda. Meski pada dasarnya berbeda, membangun etos kerja lewat bekerja bagi kaum muda punya tempat tersendiri dalam membangun kualitas diri dalam meyiapkan skill di masa depan yang berpengaruh terhadap proses kemajuan bangsa.

Kontribusi generasi muda terhadap proses kemajuan bangsa salah satunya adalah kemampuan etos kerja yang baik. Lewat upaya ‘bekerja’ dan usaha mengasah kemampuan diri di dalam memajukan sektoral di ranah pendidikan, ekonomi, infrastruktur dan lain sejenisnya penting dimiliki oleh pemuda masa kini.

Alasannya cukup gamblang. Pemuda merupakan aset dan potensi yang harus digembleng supaya menjadi SDM berkualitas. Hal itu harus dilakukan mengingat muda-mudi adalah penerus titah perjuangan tokoh terdahulu untuk membangun peradaban bangsa.

Pada zaman dahulu saja, dalam sejarah perjuangan bangsa. Pemuda menjadi garda terdepan di setiap kejadian penting negeri ini. Semisal usaha merebut kemerdekaan dari Belanda dan Jepang saat itu.

Presiden Ir. Soekarno pernah bilang “ Berikan aku sepuluh orang pemuda, akan ku goncangkan dunia “. Hal itu dikatakan bukan tanpa alasan, sebab dalam masa-masa muda adalah waktu dimana seseorang mampu melakukan segala jenis pekerjaan dengan semaksimal mungkin sesuai bidang kemampuan. Jadi bukan lain pemuda menjadi aset penting dalam mewujudkan pembangunan secara berkelanjutan.

Bupati Kutai Barat, FX Yapan dalam rilis pers nya pernah mengatakan bahwa, pemuda harus mau banting tulang untuk dirinya. “Pemuda harus bertindak, bekerja keras, bekerja ikhlas dan bekerja cerdas, isi semua peluang di setiap sektor, untuk kemajuan pembangunan,”

Perkataan tersebut lantas bukan sebuah motivasi murahan belaka. Saya pribadi mengambil banyak pelajaran dan pesan moral akan perkataan beliau. Di mana memang pemuda masa kini harus mau melangkah lebih jauh, bekerja keras dalam hal apapun selagi itu positif. Bahkan, kerja ikhlas tanpa pamrih pun perlu dilakukan oleh pemuda.

Modern ini, pemuda memang dihadapkan pada masa sulit karena dampak pengaruh zaman, terutama pengaruh negatif dari arus globalisasi. Sekarang ini, menurut pandangan saya, banyak pemuda terlena oleh hingar-bingar indahnya kehidupan yang difasilitasi oleh teknologi.

Kita tahu, sekarang makin banyak pemuda lebih sering menghabiskan waktu untuk bermain game online, bermedia sosial yang kurang bermanfaat, maupun berbagai hal tentang kaitan dengan pengaruh perkembangan beserta dampak kurang menguntungkan di dalamnya.

Semisal, ada kalanya pemuda harus mau turun tangan, membantu kedua orang tua dalam bekerja. Ya minimal ngemek pegawean (membantu pekerjaan) yang ringan saja. Pemuda jangan mau mengikuti hawa nafsu dan gensi semata. Kedua hal tersebut (nafsu dan gensi) hemat saya hanya akan membawa pada kesengsaraan di kemudian waktu.

Pemuda adalah harapan bangsa, kemauan pemuda dalam niat membangun dedikasi etos kerja pada aspek apapun ialah harapan mulia bagi dirinya dan masa depan bangsa, tentunya. Cita-cita luhur bangsa yang berharap peranan pemuda dalam mengubah nasib adalah ikhwal dan menjadi kewajiban.

Masa depan bangsa ini ditentukan oleh pemuda yang tidak egois memikirkan hawa nafsu dan gensi hidup semata. Bangsa ini butuh sosok pemuda penuh gairah, etos kerja tinggi, mau berjuang keras untuk dirinya sendiri dan tentu orang lain, baik selingkungan, lintas kampung, bahkan lintas pulau, jika perlu. (*)

*Gayuh Ilham Widadi, adalah Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Facebook Comments