Menjadi Santri yang Sesungguhnya

984

Oleh: M. Fahmi*

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS. Al-‘Ankabuut:69).

Betapa banyak dan beragam pandangan atau definisi dari kata “santri”. Ada yang mengatakan bahwa santri adalah orang yang meninggalkan rumah dan keluarganya demi untuk mencari kebenaran di dalam kehidupan (baca: belajar ilmu agama Islam) ke suatu tempat dan menetap pada kurun waktu tertentu Ada juga yang berpendapat, bahwa santri adalah singkatan dari lima huruf hijaiyyah, yaitu س ن ت ر ي) ). Huruf “س ” adalah سالك الى الاخرة , yang berarti “menempuh jalan ke akhirat”. Kemudian huruf “ن ” adalah نائب عن المشايخ , yang berarti “pengganti para masyayikh”. Huruf “ت ” adalah تارك عن المعاصي , yang berarti “meninggalkan kemaksiatan”. Huruf “ر ” adalah راغب في الخيرات , yang berarti “pencinta kebaikan”. Dan huruf “ي “-nya adalah يرجو السلامة في الدنيا والاخرة, yang berarti “mengharap keselamatan dalam dunia dan akhirat”. Kemudian KH. Musthofa Bisri mengatakan bahwa, “santri” itu bukan hanya yang pernah modok saja, tetapi siapa saja yang berakhlak santri, maka ia disebut santri.

Apapun pernyataan tentang “santri”, pada hakikatnya, kesemuanya itu memiliki kesamaan persepsi, yaitu orang yang sedang dalam proses pencarian ilmu dan kebenaran untuk kemudian diamalkan di muka bumi ini sebagai bekal di kehidupan esok yang lebih kekal. Namun di dalam tulisan ini, penulis lebih menekankan pada makna “santri” yang sesungguhnya, yaitu santri yang tinggal di sebuah pondok pesantren untuk mengaji dan mendalami ilmu agama Islam.

Sementara, pondok pesantren merupakan “wadah” yang di dalamnya, pemikiran, pembelajaran, penggemblengan, gagasan, dan pembentukan karakter berjalan secara dinamis. Potensi pesantren yang demikian itu tumbuh dari dua hal: pertama, kemampuan dan kecakapan; kedua, kepercayaan masyarakat atasnya. Pesantren dengan religiusitas dan pendidikan moralnya berhasil membangun karisma dan pengaruh yang begitu besar. Pembelajaran nilai-nilai keagamaan yang terus-menerus ditransformasikan melalui pendidikan mampu mengejewantah dalam realitas masyarakat. Pesantren setidaknya, berhasil menyumbang tatanan nilai dan moral-etik yang kemudian dipegang oleh masyarakat. Besarnya peran pesantren dalam membentuk tatanan moral masyarakat memosisikannya sebagai basis segala aktivitas.

Apalagi pesantren yang berada dalam kawasan pendidikan formal berupa sekolah-sekolah atau perguruan tinggi yang dengannya, santri bisa belajar pula di dalam sekolah formal dapat memberi kontribusi pemikiran yang lebih besar lagi. Hal itu membuat masyarakat menyerahkan sebagian besar kepercayaannya pada pondok pesantren. Tokoh-tokoh besar yang berasal dari pondok pesantren menjadi tumpuan masyarakat atas berbagai masalah keseharian yang dihadapi.

Facebook Comments