Mengeja Tanda Baca Kiai Sepuh

438
Komitmen NU pada Demokrasi Pancasila di Muktamar 1967
Komitmen NU pada Demokrasi Pancasila di Muktamar 1967

Oleh: Akh. Muzakki*

ADA dua kata yang beririsan makna: mengeja dan membaca. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengeja berarti melafalkan (menyebutkan) huruf-huruf satu demi satu. Membaca bermakna melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati).

Tentu membaca memiliki derajat kualitas yang lebih tinggi daripada mengeja. Namun, ujung dari dua kata itu adalah memahami atau mendapatkan pemahaman yang baik atas suatu objek. Hanya, bedanya, mengeja itu tahapan paling awal sebelum membaca dalam artian yang lebih utuh dari proses memahami suatu objek.

Untuk sampai ke pemahaman yang baik itu, ada prasyarat yang harus dipenuhi. Ada ejaan yang harus diikuti. Ada kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi, yang diwakili kata atau kalimat dan semacamnya, yang harus diikuti. Bentuknya adalah tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.

Beberapa hari belakangan, publik penasaran dengan ikhtiar para kiai sepuh se-Jawa Timur. Diawali dengan pertemuan 21 kiai sepuh yang kemudian melahirkan surat bersama yang ditujukan kepada Gus Halim Iskandar dalam kapasitasnya sebagai ketua DPW PKB Jawa Timur serta calon gubernur Jawa Timur pada pilkada 2018.

Selanjutnya, isi surat tersebut lebih dikonkretkan lagi melalui serangkaian pertemuan para kiai sepuh di sejumlah titik di Jawa Timur: Pesantren Lirboyo, Kediri, dan Pesantren Genggong, Probolinggo (24/5/2017); lalu Pesantren Bumi Sholawat Lebo, Sidoarjo (25/5/2017).

Baca Juga: Komitmen NU pada Demokrasi Pancasila di Muktamar 1967

Nah, untuk sampai pada pemahaman yang baik terhadap langkah para kiai sepuh itu, ada sejumlah โ€tanda bacaโ€ yang harus dieja dan dibaca dengan penuh saksama. Dalam perspektif pakar linguistik Ferdinand de Saussure, sejumlah tanda baca tersebut berisi sekaligus berfungsi sebagai penanda (signifier) atas sejumlah kecenderungan yang menjadi petanda (signified).

Langkah para kiai sepuh itu ibarat tulisan-tulisan yang tersusun dengan maksud tertentu. Rangkaian pertemuan untuk mengkristalisasi pikiran dan gagasan yang ditumpahkan dalam musyawarah tersebut adalah kata dan tanda baca yang digunakan sebagai simbol untuk mengungkapkan isi pikiran serta tindakan mereka.

Ada dua tanda baca penting yang dikirim para kiai sepuh melalui langkah-langkah itu. Pertama, tanda hubung. Tanda baca itu dikirim untuk menyambungkan unsur-unsur internal yang berjumlah lebih dari satu. Dalam konteks Pilgub Jatim 2018, nama-nama yang mengemuka dari kalangan internal NU antara lain Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Halim Iskandar, dan Khofifah Indar Parawansa. Karena itulah, surat 21 kiai sepuh hanya ditujukan kepada Gus Halim Iskandar sebagai tokoh NU pimpinan partai yang sudah menyatakan diri sebagai cagub Jatim 2018, bukan ke partai lain walau kader NU tersebar lintas partai.

Facebook Comments