Madura Dikelilingi Patahan Lempeng Aktif

938
Ilustrasi. (Ist)

Madura, Rumah Baca Orid
Pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Amin Widodo, menyebut tingkat kerawanan gempa di Pulau Madura, Jawa Timur, cukup tinggi. Sebab, wilayah itu dikelilingi dua patahan lempeng di bagian utara dan satu patahan di bagian selatan yang semuanya aktif.

Dua patahan di wilayah utara adalah patahan Masalembu dan patahan Rembang-Madura-Kangean-Sepanjang (RMKS). Sementara di wilayah selatan, patahan terdekat adalah patahan Wongsorejo yang beberapa hari lalu menjadi sumber gempa.

“Bahkan patahan RMKS menyentuh sebagian wilayah daratan di Madura,” kata Amin Widodo, Minggu, 14 Oktober 2018 lalu.

Selain beberapa patahan lempeng yang mengelilingi itu, Pulau Madura juga berdekatan dengan patahan lainnya, seperti patahan Surabaya dan patahan Saradan. Jika terjadi gempa di patahan itu, beberapa wilayah di Madura bisa dimungkinkan merasakan dampaknya.

Amin menjelaskan, sesar atau patahan yang berdekatan dengan Madura itu memiliki tipe pergerakan berbeda. Untuk patahan di sebelah utara, memiliki tipe bergeser (mendekat dan menjauh) sementara untuk patahan Wongsorejo memiliki tipe naik-turun.

“Pasca terjadi gempa di Perairan Sapudi beberapa waktu lalu, bagian selatan patahan naik atau meninggi sementara bagian utara patahan turun,” jelas Amin.

Selain patahan di perairan, juga terdapat beberapa patahan di wilayah daratan. Ini yang menyebabkan terjadinya gempa daratan di Pulau Garam itu beberapa waktu lalu. Misalnya gempa yang pernah terjadi di Kabupaten Sampang awal 2017 lalu, disusul peristiwa serupa di Kabupaten Pamekasan yang ditandai dengan adanya suara dentuman.

Gempa daratan yang terakhir adalah yang terjadi di Kabupaten Sumenep yang menyebabkan sejumlah bangunan di Kecamatan Batuputih dan Manding mengalami kerusakan.

Meskipun kekuatannya tidak setinggi yang terjadi di Perairan Sapudi, namun serangkaian peristiwa lindu itu membuktikan bahwa Pulau Madura tidak aman dari gempa.

Dalam catatan, gempa Sapudi merupakan gempa terparah di wilayah Madura dalam sepuluh tahun terakhir. Tiga orang meninggal dunia dan ratusan rumah serta bangunan rusak akibat gempat 6,4 SR di perairan antara Pulau Sapudi dan Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi tersebut.

Warga juga sempat khawatir untuk masuk rumah mereka, meski getaran sudah tidak terasa. Bahkan, hingga Kamis siang, sebagian warga, terutama yang berada di Kecamatan Gayam dan Nonggunong, Pulau Sapudi, memilih membangun tenda darurat di tempat terbuka atau menempati gubuk-gubuk di pesawahan.

Mereka baru berani masuk rumah setelah ada imbauan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, bahwa kondisi sudah aman, namun diminta tetap waspada.

“Tidak ada yang berani masuk rumah, karena kami masih trauma dengan berita seputar gempa yang terjadi di Palu dan Donggala,” kata Mohammad Rifki, warga Kecamatan Gayam.

Berdasar data di BPBD Kabupaten Sumenep, kerusakan bangunan akibat gempa tidak hanya terjadi di Pulau Sapudi. Namun juga terjadi di beberapa kecamatan lain, diantaranya Kecamatan Bluto dan Kecamatan Kalianget.

Sejumlah bangunan, termasuk rumah warga dan fasilitas umum, mengalami retak di bagian dinding serta kerusakan di bagian atap. Beberapa diantaranya tidak bisa ditempati karena kondisinya yang parah.

“Selain di Pulau Sapudi, kerusakan bangunan juga terjadi di beberapa kecamatan lain yang berada di pesisir selatan Kabupaten Sumenep,” kata Kepala BPBD, Abdul Rahman Riyadi.

Gempa bermagnitudo 6,4 itu terjadi pukul 01.44.57 WIB. Titik gempa berada wilayah Laut Bali dengan letak geografis 7.42 Lintang Selatan dan 114.48 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer.

Gempa berkekuatan magnitudo 6,4 SR terjadi pukul 01.44.57 WIB di perairan antara Pulau Sapudi dan Selat Bali.

Berdasarkan keterangan tertulisnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa gempabumi tak hanya terjadi sekali melainkan diikuti beberapa kali gempa susulan.

Pemetaan Kawasan Rawan Gempa

Amin Widodo meminta pemerintah segera melakukan pemetaan kawasan rawan gempa dan melakukan sosialisasi kepada masayarakat. Selama ini, masyarakat belum memperoleh informasi yang jelas soal kawasan-kawasan yang dilintasi patahan lempeng aktif dan memiliki kerawanan terjadinya gempa.

Informasi itu, kata dia, sangat dibutuhkan agar masyarakat memiliki gambaran tentang kondisi daerahnya.

“Memang, sampai saat ini tidak ada alat yang mampu mendeteksi akan terjadinya gempa. Namun, dengan pemetaan itu, setidaknya diperoleh gambaran daerah-daerah mana yang rawan terjadi lindu,” jelasnya.

Berdasar hasil penelitian BMKG, kata dia, Indonesia masuk dalam kawasan seismik aktif dan kompleks. Ada enam zona subdaksi di wilayah Indonesia yang masing-masing masih terbagi menjadi segmen-segmen megathrust.

“Sementara sesar aktif yang menjadi sumber terjadinya gempa terdapat sekitar 296 dan sebagian melintas di perairan dan daratan Madura,” katanya. (koranmadura.com)

Facebook Comments