Kreativitas

532
Ahmad Fairozi, Pendiri Rumah Baca Indonesia (Rumah Baca ID).

Beberapa hari yang lalu, saya bersama teman-teman kantor pergi berlibur ke Malang, Jawa Timur. Kami menyusuri jalan dan tempat indah mencari suasana tenang setelah beberapa hari sebelumnya disibukkan dengan berbagai aktivitas yang menyita banyak pikiran dan tenaga.

Kita ketahui bersama, bahwa Malang adalah salah satu kota dingin. Selain itu, Malang adalah tempat berbagai destinasi wisata didirikan. Ada wahana bermain anak, ada hiburan dan destinasi wisata alam, dan masik banyak lagi tempat-tempat kreatif lainnya yang memanjakan calon pengunjungnya menikmati suasana yang tenang, aman dan damai.

Usai menyusuri jalan dengan panjang kurang lebih berjarak sekitar 350-400 km, kami bersama teman-teman mampir ke destinasi wisata alam yang bernama Bukit Nirwana. Di tempat yang sangat tinggi ini terlihat kerumunan orang tampak berswa foto bersama, baik laki-laki dan perempuan tampak mengabadikan setiap momen saat ada di puncak Nirwana yang baru dibuka sekitar empat bulan lalu ini.

Sepintas tak ada hal yang sangat mewah di tempat ini. Hanya saja, melalui tangan dingin dengan kreativitas yang tinggi, pengelola berhasil menyulap bukit yang dulunya hanya biasa-biasa saja tampak menjadi luar biasa.

Tempat yang nampak dipenuhi dengan rakitan bambu-bambu itu juga memberikan suasana berbeda bagi setiap pengunjungnya. Hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 10 ribu, pengunjung dimanjakan dengan pemandangan tinggi, sejuk dan indah.

Bunga-bunga yang berwarna-warni pun turut tumbuh menghiasi jejeran bambu-bambu yang ditata rapi mencekam bumi. Selain itu, tiket yang dibeli juga dapat ditukarkan dengan aneka makanan yang disuguhkan bagi mereka yang sedang bersantai sembari menikmati pemandangan alam di atas ketinggian.

“Bukitnya indah, murah dan meriah,” kata Didik, salah seorang teman saya saat berada di puncak Nirwana. “Berkat tangan kreatif, bukit yang dulunya hanya biasa-biasa saja, kini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,” ucapnya, kembali menegaskan keterkesanannya pada bukit yang kita kunjungi ini.

Memang, di jalan menanjak saat akan masuk ke bukit Nirwana ini, di samping kiri dan kanan jalan yang terjal banyak ditanam berbagai buah-buahan. Kami menduga, para warga di daerah ini memang merupakan petani buah dan sayur. Tampak pohon apel, jeruk, tomat dan kubis terlihat di sepanjang jalan untuk sampai ke puncak bukit Nirwana ini.

Dan jauh sebelum kita memasuki wilayah ini, di salah satu gerbang saat kita akan memasuki kawasan wisata tersebut bertulis “selamat datang di desa wisata Pujon” dan melekat pada monumen yang di bangun di pinggir jalan menggunakan tembok dengan cukup besar.

Tidak hanya itu, jalan yang kita lewati juga terlihat masih baru di bangun. Jalan yang hanya bisa dilalui oleh dua mobil disaat bersamaan itu pun masih berbentuk cor dan masih belum tampak diaspal. Meski demikian, orang-orang yang ada di pinggir jalan sepanjang menuju tempat wisata, tampak ramah dan sangat terbuka bagi para pengunjung yang datang ke tempat itu. Artinya, suasana yang pemerintah lekatkan pada daerah itu sebagai desa wisata memang betul-betul telah direncanakan secara matang.

Rasanya memang tidak ingin cepat-cepat beranjak pulang dari tempat itu, namun waktu adalah pembatas yang benar ada dan nyata untuk pergi menyusuri tempat-tempat lainnya yang mungkin tak kalah menarik berkat polesan tangan dingin orang-orang kreatif.

Di tempat saya tinggal, Kabupaten Sumenep, Madura, meski telah mendeklarasikan diri sebagai tempat kunjungan wisata, masih belum bisa menarik wisatawan untuk berkunjung dengan porsi sama rata di setiap tempat wisata yang ada. Hanya ada beberapa destinasi yang ramai dikunjungi para wisatawan, misalkan Gili Labak, Pantai Sembilan, Bukit Tinggi Daramista dan Asta Tinggi. Selain tempat wisata itu, pengunjungnya masih bisa dikatakan minim dan tak begitu banyak.

Mungkin, para pelaku wisata si Sumenep perlu lebih mengolah pikir untuk memoles tempat wisata agar bisa semenarik mungkin memikat para wisatawan untuk datang berkunjung. Pembenahan infrastruktur menuju tempat wisata juga perlu segera dibenahi, agar pengunjung yang hendak mendatangi berbagai tempat wisata yang ada tidak berpikir dua kali untuk datang dan berkunjung. Sebab, melalui tangan-tangan dingin kreativitas lah yang dapat menghasilkan segala sesuatu menjadi bernilai lebih, salah satu contohnya adalah menumbuhkan geliat perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata. (*)

*Ahmad Fairozi, Pendiri Rumah Baca Indonesia (Rumah Baca ID).

  • 7
    Shares

Facebook Comments