Instrospeksi Untuk Mengembalikan Yang Hilang Dari Kita

595

TAHUN 2016 yang baru saja berlalu meninggalkan kita, masing-masing kita melipat rapat kalender itu dan menggantinya dengan kalender baru (2017). Sebelum benar-benar menutup 2016, mari kita coba mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang dipertontonkan di negeri kita Indonesia tercinta. Hal ini bukan dimaksudkan untuk meratapi atau menyesali masa lalu. Setidaknya, ia menjadi tolok ukur untuk suatu langkah progresif di masa yang akan datang.

Melihat peristiwa yang berlalu lalang menyajikan kebencian dan perpecahan yang menimbulkan fragmen-fragmen dengan identitasnya masing-masing, bendera golongan berkibar lebih tinggi dari bendera negeri kita, lagu pergerakan masing-masing kelompok lebih nyaring diperdengarkan dari lagu kebangsaan kita.

Perbedaan paham di antara umat beragama sudah tidak lagi menjadi keragaman yang berpegang teguh pada “Bhinneka Tunggal Ika”, bahkan satu agama yang berbeda madzhab sudah bercerai berai saling mengkafirkan, caci maki lebih asyik diekspresikan, perbedaan bukan lagi dimaknai sebagai rahmat. Tidak salah kiranya jika disebut umat yang hobi eyel-eyelan.

Baru-baru ini, peristiwa penistaan agama menjadi trending topic, hingga sebagian umat beragama yang merasa dinistakan datang berjubel untuk menuntut keadilan. Lagi-lagi menimbulkan polemik baru. Yang tidak ikut datang disebut sebagai kelompok apatis (lemah iman), sedangkan yang datang menuntut keadilan disebut arogan (berlebihan), Al-Qu’ran dan Hadits tidak lagi dipelajari untuk diamalkan, malainkan sebatas dijadikan penguat dari pendapatnya dengan berbagai tafsiran sesuai kehendak.

Facebook Comments