Hikayat Munculnya Nama Sumenep hingga Sumekar

374
Masjid Pangeran Natakusuma atau yang dikenal dengan Masjid Jamik Sumenep saat ini. (Ist)

Sumenep, Rumah Baca Orid
Sumenep merupakan salah satu nama Kabupaten yang berada di Pulau Madura. Secara geografis Kabupaten Sumenep termasuk Provinsi Jawa Timur dan termasuk daerah yang memiliki kekayaan sumber alam yang melimpah dibandingkan dengan sejumlah Kabupaten di Jawa Timur.

Sumenep merupakan kadipaten yang paling berpengaruh atas lahirnya Kerajaan Majapahit. Yakni berdirinya kota ini tidak luput dari salah satu nama tokoh yang diyakini sangat bijaksana, Arya Wiraraja.

Awalnya, Sumenep di kalangan masyarakat dikenal dengan sebutan Songenep. Secara Etimologis, kata Songenap mempunyai banyak arti, salah satunya berasal dari kata Song berarti relung, geronggang (bahasa Kaawi), Ennep berarti mengendap (tenang). Jadi, Songenep berarti lembah bekas endapan yang tenang.

Adapa pula yang mengartikan Songenep berasal dari kata Song berarti sejuk, rindang dan payung. Ennep berarti endapan (tenang). Jadi, Songenep berarti lembah endapan yang sejuk dan rindang. Juga ada yang nemberikan arti Songenep berarti lembah, cekungan yang tenang atau sama sebuah pelabuhan yang tenang, karena kata Songenep berasal dari kata berasal dari kata Song berarti relung atau cekungan, Ennep berarti tenang.

“Sesuai yang tertulis dalam kitap tertua yang ditulis sekitar abad ke XV, kota kita bernama Songenep,” kata salah satu budayawan asal Kabupaten Sumenep, Edy Setiawan.

Menurutnya, sekitar tiga abad kemudian, nama Songenep mengalami perubahan. Perubahan dari Songenep menjadi Sumenep terjadi pada masa penjajahan Belanda, sekitar permulaan abad XVII (1705).

Saat itu, Belanda sudah memulai peran dalam menentukan politik kekuasaan pemerintahan di Madura, termasuk Sumenep. Pada awal abad XVII, Belanda mengubah kata Songenep menjadi kata Sumenep, terbukti dengan adanya terbitan Belanda pada masa itu telah menggunakan sebutan nama Sumenep.

“Mungkin saat itu Belanda lebih mudah mengucapkan Sumenep daripada melafalkan Songenep,” jelas pria yang juga menjadi Fotografer Handal itu.

Lebih lanjut Edi mengatakan, sekitar pertengahan abad ke XVII Sumenep mulai mempunyai istilah baru, yakni Sumekar. Munculnya kata yang mempunyai arti semakin berkembang tidak lepas dari berdirinya Masjid pertama di Sumenep yang dibangun pada tahun 1625.

Masjid yang saat ini tetap berdiri kokoh itu, sebagai simbol semakin berkembangnya agama Islam di Sumenep tempo dulu. Pesatnya perkembangan Agama Islam menjadi pusat perhatian masyarakat Islam yang berada di luar Kabupaten Sumenep.

Sehingga saat itu Raja Sumenep yang memimpin merasa senang dengan sebutan itu, dan tetap dipertahankan hingga saat ini. “Jadi, Sumekar itu merupakan simbol perkembangan Agama Islam di Sumenep,” pungkasnya.

Facebook Comments