Halaman Gelap Modernitas Jepang

458

Oleh: Puri Bakthawar*

MEMBACA lembar-lembar kemajuan peradaban manusia, kita acap melewatkan halaman-halaman gelap paradoks di baliknya. Lebih dulu kita disilaukan, oleh gedung-gedung megah yang menjulang atau mobil-mobil mewah yang mengundang decak kagum. Kerap kita lupa, bahwa di balik tiap raihan prestasi, ada rasa sakit yang mesti dibayar. Jepang, negeri yang kini berdiri sebagai garda depan teknologi, punya pengalaman panjang untuk hal ini.

Novel Kappa ditulis pada tahun 1927, dalam kurun di mana Jepang menikmati modernisasi pasca Restorasi Meiji. Di era yang sering disebut sebagai Demokrasi Taisho ini, stabilitas politik terjaga dan demokratisasi publik lewat media massa berkembang. Keterbukaan ekonomi dan percepatan industri memicu kenaikan tingkat kesejahteraan. Implikasinya, warga Jepang mampu untuk mengakses pendidikan tinggi. Dengan literasi ilmu pengetahuan, Jepang secara berangsur menjadi kekuatan dari Timur jauh yang diperhitungkan, hingga menjelang Perang Dunia I.

Meski demikian, di balik capaian indah itu tersembunyi lorong-lorong gelap. Individualisme menjalar seiring dengan modernisasi. Nilai-nilai tradisional seperti kesetiaan dan solidaritas terus terpinggir. Keluarga bukan lagi hal yang dekat, melainkan asing lagi jauh. Manusia berjalan maju, menyulap rimba belantara menjadi gedung pencakar langit, namun seakan tak tahu kapan dan ke mana akan pulang.

Baca Juga: Selamanya, Takdir Sukab adalah Penonton Teater Politik

Facebook Comments