Bersama Sanak

667
Obik Andawiya - Bersama Sanak
Obik Andawiya - Bersama Sanak

Oleh: Obik Andawiya*

Bersama tiga anak ini; Nafi’, Rijal dan Randi, aku berjalan di sepanjang rel kereta api. Kamu yang di Malang dan tahu daerah kampung Jodipan (Kampung warna-warni), di atasnya terdapat rel kereta api, nah rel kereta itulah yang menyambung dengan rel yang sedang kami lewati ini. Banyak yang kami obrolkan, berkenalan, mereka bertanya aku mau kemana, aku bertanya mereka mau kemana, tidak takutkah mereka tiba-tiba ada kereta lewat seketika, “Oh! Kalau kereta nanti mbak, biasanya tiap dua jam gitu,” Nafi’ menjawab. Hingga akhirnya kereta itu benar-benar muncul beberapa meter di belakang kami setelah terdengar suara sirene sebagai tanda peringatan. Kami menepi. Kedua telinga Nafi’, Rijal dan Randi mereka tutup dengan tangan masing-masing. Rambut tipis mereka bergerak-gerak searah jalannya kereta karena jalannya yang kencang. Seketika aku merasakan getaran sebagai hantaran dari kereta api yang sedang lewat. Takut.

Terlepas setelahnya, ku lirik bapak ibu petani yang sedang bercocok tanam di sawah di seberangku. Setiap hari mereka penuh kebisingan kereta api di sini?. Mulutku terkunci. “Mbak, ayo cepetan nyebrang!.” Nafi’ memanggilku. Tubuhnya sudah berdiri tepat di rel kereta yang menyerupai jembatan. Oh, ternyata di bawahnya sungai. Jembatan itu berupa kayu yang diselingi lubang, di bawahnya terdapat tabir mirip besi yang tertutup. Kata Nafi’, jika ada kereta lewat maka penyeberang sungai bisa bersembunyi di bawah jembatan dengan memasukkan tubuhnya di ruangan kecil bawah jembatan rel kereta api ini. Tepat di seberang sungai itu, sebuah perkampungan yang terlihat sedikit kumuh dan ke sanalah aku bersama temanku, Ain akan pergi. Oh, tidak. Aku paling tidak suka menyeberangi sungai dan melewati jembatan berlubang.

Para ibu-ibu di sawah yang sedang membersihkan padinya, berteriak ke arah kami untuk tidak menyeberangi jembatan itu. Ya, mereka menganggap bahaya, takut tiba-tiba kereta muncul di saat kita di tengah jembatan, apalagi bersama anak kecil. Jadilah aku dan Ain tetap berdiri di pinggiran. Sementara tiga anak itu bermain-main sambil bergelayutan di jembatan.

Baca Juga: Sajak-sajak Obik Andawiya

“Mbak, ayooo,” kata Nafi’.
“Takut …,” jawabku. “Nanti ada kereta lewat lagi.”
“Ndak ada, mbak. Kan barusan udah lewat.”
“Ntuh, takut sama ibu-ibu yang di sawah. Gak dibolehin nyeberang.”
“Aduh, mbak bilang aja rumahnya di perkampungan itu … di sana.” Telunjuk Nafi’ mengarah ke seberang. Seketika aku ingin tertawa. Anak ini …
“Mbak, takut …”
“Ya, udah. Mbak jangan bilang takut ke ibu itu. Nanti ndak dibolehin nyebrang.”
Eh, bener juga. Batinku.
“Aku dulu pernah takut, mbak. Tapi sekarang udah ndak. Nih liatin ya … dulu pas aku belajar, aku jalannya kayak gini.” Tiba-tiba kedua tangannya dia lekatkan pada sisi rel kereta api sehingga tubuhnya membungkuk. Dengan bergantian, kedua kakinya menggeser hingga beberapa langkah. “Nah … gitu mbak. Ayooo, ndak boleh takut.”

Ah, anak ini. Pintar sekali mengajari.

“Ndak, ah!. Mbak  balik aja, ya. Ndak jadi nyeberang.”
“Loooh, ndak apa-apa mbak. Jangan takut.”
“Ndak, mau. Kapan-kapan saja ya. Kalau mbak ke sini lagi.”
“Ya, udah deh. Aku ikut mbak, aja.”
“Loh, kemana?”
“Balik lagi. Aku ndak jadi nyeberang. Rek, ayo balik!” si Nafi’ memaggil kedua temannya.
“Loh, gak apa-apa kalian nyeberang. Kapan-kapan main lagi.”
“Ndak, apa-apa mbak. Kita balik saja.”

Facebook Comments